Laman

Renungan

Rindu mendapatkan renungan setiap hari!
ataupun artikel serta tips2 kesehatan!!
Silakan kunjungi :
Semoga terbekati Lewat Blog ini!
God Bless You Friends
Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2011

Demi Tampil Pede, Kugunakan Jimat dan Susuk

Dunia anak-anak seharusnya polos dan lugus, namun itu tidak berlaku bagi Ade.

“Mama saya pergi ke dukun, antar orang untuk mencari pengasihan untuk mempercantik diri. Saya diajak mama saya ke dukun, saya melihat bagaimana orang dipakaikan susuk oleh dukun itu. Mengucapkan mantra-mantranya, lalu menyuruh orang tersebut minum air, lalu susuk itu dimasukkan,” kata Ade membuka kesaksian hidupnya.
detail_img“Rasanya aduh serem ya, tempatnya gelap, saya masih kecil, belum mengerti apa-apa. Yang ada hanya ketakutan aja. Saya bertanya, ‘mama, kita ngapain ke dukun ini? Jangan ke dukun mam, kayaknya kita dosa deh. ‘Ga papa non, in mah hanya untuk penjagaan diri sendiri saja’,”
Menggunakan Susuk dan Jimat
Beranjak dewasa, nuraninya dibelokkan oleh kenyataan hidup. Apa yang membuatnya memilih jalan pintas?
“Karena saya adalah seorang sekretaris maka saya membekali diri saya supaya memiliki kharisma dan daya tarik kepada orang. Saya pun datang kembali untuk meminta jimat dan untuk diisi. Lalu beliau menyiprati wajah saya dengan air. Beliau pun kemudian mengambil sebuah keris kecil dan keris kecil itu ditusukkan ke dalam bedak. Setelah itu, ia pun memberikannya kepada saya sambil berkata, ‘Ade, karena bedaknya sudah mami isi maka persyaratannya kamu harus mandi kembang setiap malam Jumat’.”
Ada harga yang harus dibayar, ada sesuatu yang harus ia korbankan. “Saya melakukan ritual mandi kembang jam 12 malam. Lalu saya mandi seperti biasa, saya siram dari kepala sampai seluruh tubuh saya”
“Saya rasa takut karena di kamar mandi kan. Orang kan saat itu sudah pada tidur semua, namun saya tetap melakukannya karena saya ingin apa yang dikatakan oleh dukun tersebut terjadi di dalam hidup saya,”
Dunia mistis kini telah membutakan mata hatinya. “Karena saya sudah mempercayai bahwa di dalam benak itu ada kekuatannya, setiap kali saya pergi ke kantor, berdandan, lalu saya menggunakan bedak supaya saya mendapatkan sebuah kharisma di dalam diri saya. Kalau tidak menggunakan bedak itu, saya merasa kurang percaya diri,”
Apakah keyakinannya terhadap hal mistis itu akan terbukti? “Ada saya order barang dengan sebuah toko, lalu pemilik toko itu tiba-tiba memberikan saya komisi dalam jumlah yang cukup besar,”
Dengan jimat itu semua keinginannya terpenuhi, namun ada benarnya pepatah yang mengatakan, ‘manusia tak pernah merasa puas’.
“Lalu yang kedua, saya terlibat lagi pake susuk. Dukun itu hanya membawawakan 3 benda berupa batu dan itu dimasukkan ke dalam diri saya. Yang pertama di dahi, lalu kedua di bawah bibir, dan terakhir di punggung saya. Ada kekuatan baru, saya memiliki sebuah kharisma yang membuat saya pede. Dunia okultisme itu sudah mengikat saya lebih dalam lagi. Seperti itu adalah sebuah bagian dalam kehidupan saya sendiri”                                                                              
Ade sangat yakin akan dampak jimat yang ditanam di dalam wajahnya. Sebuah pembuktian akan dia lakukan. “Kontraktor saya ini membangun sebuah rumah. Ada satu tamu datang, seorang bapak melihat proyek yang kami bangun. Setelah mereka mendengar presentasi kami dan melihat rancangan kami, ia pun meneken kontrak dengan kami,”
Batin Bergejolak dan Keputusan Untuk Lepas Dari Okultisme
Keinginannya sudah terpenuhi melalui jimat dan susuk yang ia miliki. Apakah batinnya terpuaskan?
“Kalau di dalam kamar sendiri, pegang jimatnya keluarin dari dompet. Lalu pake susuk lagi, di bedak ada lagi. Di dalam kamar ada lagi, dikelilingin. Kayaknya udah banyak banget. Bener gak sih yang saya lakukan ini? Apakah Tuhan tidak marah? Kayak merasa tertuduh, berdosa”
“Kalau sudah memikirkan ini, saya tidak bisa tidur. Terus kayak digangguin, ‘Ade, kamu sudah terlibat jauh. Kamu sudah tidak terlepas lagi karena kamu sudah ambil bagian yang dalam,”
Dunia mistis itu membuat batinnya tersiksa, adakah jalan keluar bagi Ade? Bagaimana dia terlepas dari semua hal yang mengikatnya itu?
“Tuhan, saya ingin keluar dari semua ini, tapi saya tidak tahu bagaimana keluarnya? Tidak tahu bagaimana, tiba-tiba terbuka kitab Yeremia 17:5, ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia’ Waktu saya membaca sepotong itu ayat, batin saya berkata, ‘saya ini kan tiap minggu mengandalkan dukun’ berarti saya ini orang terkutuk di hadapan Tuhan,”
“Terus sepertinya Tuhan membukakan mata rohani saya bahwa semua hal yang saya lakukan adalah salah. Semua jimat dan susuk yang saya lakukan semua itu tidak berkenan di hadapan Tuhan. Saya merasa tertuduh dengan menjadi wanita seperti ini, melakukan apa yang tidak baik di mata Tuhan. Semuanya sia-sia yang saya kerjakan selama ini”
“Saya memang memiliki banyak uang, tetapi dengan sekejap uang itu juga hilang. Saya tidak memiliki kedamaian. Ingin keluar sekali karena saya merasa sudah bosan dan jenuh. Saya malu memulainya bagaimana sepertinya Tuhan menggerakkan Ade kamu harus cepat tinggalkan semua itu, cepat sebelum kamu semakin lebih dalam lagi berhubungan dengan dunia okultisme”
“Saya harus lepas, harus jadi Ade yang baru. Saya merasakan ada kekuatan yang baru yang menyelimuti hati saya”
Tantangan-tantangan Setelah Lepas Dari Okultisme
Di saat ia meninggalkan hal gaib, sesuatu peristiwa yang tidak dibayangkan terjadi. Seorang tukang yang bekerja di rumahnya diketahui memiliki sebuah jimat.
Suatu kali, jimat orang tersebut jatuh. Tampak wajah yang panik di mukanya, Ade pun menegurnya dan bertanya, “Mas, ada apa?”. Dengan mata yang merah dan penuh amarah, tukang itu menjawab, “saya mencari barang saya yang hilang, yang jatuh ke bawah,” ujar tukang tersebut.
Waktu mata Ade dan tukang tersebut bertatapan, Ade pun terjatuh karena ia merasakan ada satu kekuatan yang menariknya. Dalam ketidakberdayaannya, darah keluar dari hidungnya. Perutnya pun kemudian membesar seperti orang membunting. Ia tahu ia terkena ajian dari jimat yang digunakan oleh tukang tersebut.
Meski begitu, ia memaksakan diri ke kantor. Setiba disana, ia mengatakan kepada bosnya bahwa ia terkena santet dari orang yang bekerja sebagai tukang di rumahnya. Ia pun minta didoakan oleh bosnya untuk dilepaskan dari segala hal-hal mistis tersebut. Bosnya pun bersedia melakukannya.
Setelah selesai didoakan, ia merasakan sesuatu yang baru. Ia tahu kini Tuhan Yesus ada di dalam hatinya.
Jimat-jimat yang selama ini dipegang oleh Ade pun diserahkan kepada bosnya tersebut. Lalu pimpinan di perusahaan itu mengatakan kalau dirinya diserang kembali oleh kuasa jahat maka ia harus mengusirnya sendiri dengan memakai kuasa firman Tuhan.
Keputusan untuk meninggalkan hal gaib yang mengikatnya ternyata mengalami tantangan.
“Setelah saya mendekatkan diri kepada Tuhan, membaca Firman. Pada saat membaca Alkitab, Alkitab itu bergoyang. Menakutkan saya. Saya merasakan dicekik oleh iblis. Dicekik oleh manusia saja, kita bisa mati. Apalagi dicekik oleh makhluk gaib”
“Ketika iblis menyekik saya, saya berdoa kepada Tuhan Yesus. Saya usir dia dalam nama Tuhan Yesus. Saya sudah bertekad untuk meninggalkan semua ini. Pokoknya apapun yang dilakukan oleh iblis, saya tetap memperkatakan firman Tuhan. Bahkan saya berseru kepada iblis, suatu saat kekuatanmu akan hancur. Saya percaya Tuhan akan segera bela saya dan kamu akan kalah”
Kuasa kegelapan yang pernah ia percayai itu terus menerus menerornya. “Dengan penglihatan-penglihatan yang mengerikan dimana ada dua mata yang besar menatap saya setiap saat. Saya tidak tenang karena hal itu. Saya pun berdoa kepada Tuhan, ‘Tuhan, tolong berikan kekuatan kepada saya agar bisa menghadapi semua itu’. Akhirnya berjalan waktu, saya menjadi tenang dan mata yang besar itu hilang’”
Masih Ada yang Harus Dilepaskan
Ini bukan akhir segalanya, masih ada yang harus dilepaskan dalam dirinya. “Waktu saya didoakan terakhir oleh hamba Tuhan, saya mengalami manisfestasi seperti ular”
“Dalam nama Yesus bahwa kuasa jahat itu keluar dari tubuh Ade. Ia pun tergelap jatuh. Hamba Tuhan yang mendoakannya itu tetap mengikuti arah dia yang jatuh di lantai. Kemudian kami pun terus ikut berdoa kepada dia yang penuh dengan ketakutan,” kata Kwee Pao Tjoe, pembimbing rohani Ade.
“Setelah didoakan terus oleh hamba Tuhan itu dan sahabat saya juga ada disitu dan puji Tuhan saya boleh mengalami kelepasan”
“Saat itu tubuh saya terasa lemas seperti ada sesuatu yang sudah keluar dari tubuh saya dan sudah enteng ya seperti tidak ada beban lagi. Saya merasakan kelegaan yang dahulu saya idam-idamkan. Saya merasakan bahagia ternyata di dalam Tuhan seperti ini. Lain seperti saat saya berada di dunia okultisme, saya merasa cemas, kuatir, gelisah, ketakutan, semua saya rasakan. Begitu lepas dari situ, saya memiliki kehidupan baru dimana disitu ada kedamaian di hati, sukacita, ada sebuah kehidupan baru yang tidak pernah saya alami,”
Penderitaan Karena Penyakit Tumor dan Lupus
Berbagai hal mistis dan bayang-bayang ketakutan sudah tak menghantuinya, namun ternyata ini belum selesai.
“Saya pikir hidup saya tidak ada penderitaan lagi karena saya sudah meninggalkan hidup saya yang lama. Saya mengalami sebuah penyakit. Diagnosis dokter mengatakan bahwa saya memilki banyak benjolan di payudara,”
“Begitu mendengarnya, saya lemas. Pikiran saya langsung berkata bahwa hari-hari saya akan pendek karena saya mengetahui ada sejumlah teman saya yang mengalami hal ini dan mereka meninggal”
Penyakit tumor dengan dua belas benjolan yang ia alami, bahkan vonis penyakit lupus membuat ia semakin tak berdaya. “Kondisi saya drop kembali. Saya tidak bisa makan selama satu bulan. Saya hanya makan regal dan bubur bayi. Dengan kondisi seperti itu, berat badan saya susut sebanyak 23 kg. Ketika melihat tubuh saya, saya berkata, ‘Tuhan, apa inikah hari-hari saya akan habis dengan hal yang seperti ini’”
“Saya tidak bisa berjalan dengan baik. Saya harus menggunakan tongkat ketika melangkah. Memakai baju saja saya tidak bisa. Kondisi saya seperti orang cacat. Badan saya miring sedikit saja, saya sakit. Zona saya tidak ada yang enak seperti hidup di atas paku. Kalau terserang gatel, saya harus garuk-garuk dengan sisir.”
“Saya berseru sama Tuhan, ‘Tuhan apalagi sih ini? Apakah ini sebuah hukuman karena masa lalu saya? Saya pun meminta mami saya untuk memanggil hamba Tuhan untuk mendoakan saya karena saya sudah tidak kuat”
Kondisinya semakin memburuk. Ia pun harus menjalani berbagai perawatan medis.
“Tuhan, saya malu karena saya pake tongkat. Suatu kali saya pernah ke rumah sakit, saya melihat saat itu ada satu oma yang gagah. Saya merasa sedih karena saya baru kepala 4, tetapi sudah menggunakan tongkat seperti oma-oma. Jadi saya rasanya tidak terima dengan keadaan ini”
“Dulu saya orangnya gagah, kuat, pekerja keras, tetapi sekarang saya harus memandang kondisi saya seperti oma-oma berusia 70-an tahun, yang tidak berdaya, yang tidak berguna lagi”
“Saya sempat marah sama Tuhan. Kecewa sama Tuhan, ‘Mengapa saya seperti ini?’ , ‘Tuhan, kenapa saya menerima hal yang tidak adil seperti ini?’ Jika boleh Tuhan tolong ambil nyawa segera saja karena saya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan,”
Kecewa, frustasi, itu hal yang sangat manusiawi. Tetapi, vonis dokter semakin membuatnya terpuruk.
“Dokter bilang, ‘Ibu, ada 3 yang membesar. Jadi ini harus diangkat. Harus dioperasi, namun sebelumnya ibu harus dibiopsi”
Jalan Keluar Terbuka
Situasi yang sangat sulit, seolah tidak ada harapan bagi Ade. Dimanakah jalan keluar?
“Sebelum saya melakukan biopsi, saya menerima telepon dari sahabat saya. ‘Ade, di rumah saya ini ada kunjungan dari Tim Solusi. Tim Solusi sedang mendoakan saya, apakah Ade mau didoakan, besok kan Ade mau melakukan biopsi?’”
“Saya teringat dengan satu tayangan di televisi dari program Solusi dimana disitu ada satu orang waria yang diubahkan oleh Tuhan. Saya percaya jika seorang waria saja dapat diubahkan oleh Tuhan Yesus maka kondisi saya pun dapat diubahkan oleh Tuhan Yesus”
Semangat hidupnya bangkit. Ia memiliki keyakinan adanya sebuah harapan.
“Kondisinya sangat memprihatinkan karena bisa membuat wajahnya pucat. Tubuhnya kering kurus. Dokter mengatakan bahwa dengan kondisi seperti itu hanya mujizat saja yang bisa sembuhkan Ibu Ade” kata Asih Haryanta, salah seorang konselor dari Solusi Life.
“Saya didoakan oleh tim Solusi,”
“Saya katakan, ‘Di dalam nama Tuhan Yesus segala sakit penyakit yang ada di dalam tubuh Ade. Segala penyakit tumor, penyakit lupus, kami patahkan kuasanya di dalam nama Tuhan Yesus. Ibu Ade sembuh di dalam nama Tuhan Yesus,” tambah Asih.
“Waktu saya didoakan, saya merasakan kelegaan. Saya mendapatkan kekuatan baru untuk menghadapi biopsi besok. Saya percaya bahwa Tuhan Yesus sudah menjamah saya terlebih dahulu sebelum dokter dunia menjamah saya,”
“Lalu dokter itu bilang, ‘Ibu, sebelum ibu dibiopsi, saya akan melakukan USG kembali’.
Berdoa dan berserah kepada Tuhan, hanya itu yang bisa Ade lakukan. “Setelah di-USG ternyata benjolan itu dinyatakan hilang sama sekali. Pada saat itu disaksikan oleh teman sepelayanan saya,”
“Yang saya lihat itu, bagi manusia tidak mungkin sembuh lagi. Saya lihat juga begitu, tetapi ternyata saat kami berdoa dan berharap pertolongan kepada Tuhan dan saya lihat saat itu memang saat yang luar biasa,” kata Darna Tambunan, salah seorang pembimbing rohani Ade yang lain.
Ucapan Syukur Kepada Tuhan
“Saya berterima kasih banyak atas semua yang Engkau kerjakan di dalam kehidupan saya. Tanpa Engkau Tuhan, saya tidak akan bisa untuk kuat menjalani hari-hari saya. Semua kalau saya bisa melewatinya satu per satu, itu semua karena Tuhan turut campur tangan,”
Di saat tidak ada harapan, penderitaan datang silih berganti, namun melalui iman dan pengharapan, mujizat Tuhan nyata dalam hidupnya.
“Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. ‘Terima kasih Tuhan buat apa yang Engkau kerjakan di dalam hidup saya. Kalau bukan karena Tuhan, saya tidak akan bisa kuat seperti ini. Semua karena Engkau telah menolong saya,” ujar Ade mengakhiri kesaksiannya.  
Sumber Kesaksian:
Hendrika Ade

 

Selasa, 27 September 2011

Tak Mungkin Tertolong Lagi, Dokter Pun Lepas Tangan Menangani Aku


Pada tanggal 2 Februari 2008, Duane Andrews sedang beristirahat di rumah saat dia tiba-tiba merasakan kejang perut yang sangat hebat.

detail_img“Sangat sakit sekali, hingga pada tahap saya berteriak kepada Sharon yang berada di atas dan berkata, ‘kita harus pergi ke ruang gawat darurat. Sesuatu yang benar-benar serius sedang terjadi,’ ungkap Duane Andrews membuka kesaksiannya.
“Saya mengantarkannya ke rumah sakit, mereka segera menanganinya, dan dalam 30 menit, mereka menganalisanya mengalami serangan pankreat yang akut,“ ujar Sharon Andrews yang turut menyaksikan perbuatan Allah dalam kehidupan suaminya tersebut.
Duane dan Sharon berpikir bahwa mereka akan segera kembali ke rumah dalam beberapa hari. Akan tetapi selama lima hari berada di dalam rumah sakit, sebuah team respon yang cepat masuk ke kamar Duane.
“Tiba-tiba mereka berkata, ‘Anda harus segera berangkat, Anda harus segera berangkat’; Respon cepat, respon cepat. Saya pun merasa sangat bingung. Ada apa dengannya?’”
“Hal terakhir yang saya ingat adalah mereka berkata, ‘Kamu harus menghirup tabung ini. Tepat saat mereka memberikan obat-obatan itu pada saya, itulah hal terakhir yang saya ingat”
Duane mengalami sindrome pernafasan akut, pada stadium yang tinggi. Paru-parunya rusak karena adanya pembekuan darah. Dia telah berhenti meresponi perawatan dan semua organ dalam tubuhnya mulai rusak. Duane mengalami koma selama satu setengah bulan.
“Dokter berkata bahwa hanya ada 0% kesempatan untuk bertahan hidup mengingat kenyataan bahwa jantungnya rusak, paru-parunya rusak, ginjalnya rusak dan pankreasnya juga rusak. Dan mereka mulai mengucapkan kata-kata dukacita pada saya dan berkata, ‘kamu harus siap-siap untuk hal ini’”
Akan tetapi, dengan segala laporan yang menyeramkan itu, Sharon merasa terdesak untuk berdoa bagi Duane dan percaya pada Tuhan akan sebuah kesembuhan yang total.
“Saya merasa sepertinya tugas saya adalah memimpin sebuah rapat besar dan itulah yang saya lakukan”
“Doa sangat membantu iman saya untuk berpikir, ‘Saya tidak perlu duduk dan menangisinya, saya harus berdoa baginya’. Namun saya tahu banyak orang berdoa buat saya, sebab sepanjang waktu ini saya merasakan kedamaian, yang melebihi segala pengertian”
Sharon juga membacakan Firman Tuhan di Alkitab pada Duane selama dia koma.
“Saya menerima setumpukan besar kartu-kartu dan surat-surat dan saya membacakan Firman Tuhan kepadanya, dan saya percaya bahwa rohnya menerimanya. Itu sangat menguatkan iman saya karena begitu mudahnya untuk mendengarkan segala sesuatu. Setiap dokter ketika itu memberitahu bahwa ‘Dia Akan segera meninggal, kamu harus siap untuk ini’. Semua perawat pun mengatakan hal yang sama kepada saya. Sangat sulit untuk tetap bergantung pada janji-janji Tuhan”
Akan tetapi, pada 16 Februari, Dokter memberitahu Sharon agar menelepon anggota-anggota keluarga lainnya. Mereka yakin sekali Duani tidak akan bertahan melewati malam itu.
“Saya pun mulai mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang dan saya menangis. Saya pun mulai kacau. Saya mulai melorot jatuh ke lantai dan tiba-tiba beberapa orang teman keluar dari lift dan mereka berlutut di samping saya dan mereka mulai berdoa bersama saya. Lalu pendeta kami mulai datang dan berkata, ‘Sharon, ini bukan saatnya untuk menanginisi, ini saatnya untuk percaya. Dan jadilah, semua orang berdatangan. Semua jemaat gereja kami datang dan kami berdoa sekitar 3 jam atau lebih. Berdoa dan menyanyikan pujian kepada Tuhan. Dan saya merasa seperti Tuhan berkata, ‘Itulah yang AKU tunggu-tunggu. Sekarang, mari kita lihat apa yang bisa AKU lakukan”
Dokter tercengang saat Duane selamat pada malam itu dan kondisinya stabil. Tanggal 23 Februari, Sharon melihat sebuah mujizat lain.
“Kami tidak melihat tanda apa-apa darinya. Saya ada di ruangannya, berdoa ayat-ayat Firman Tuhan atasnya dengan seorang teman. Dan saya berkata, ‘Saya melihat mulutnya bergerak!’ Dan saat perawat datang melihat Duane dan ia katakan, ‘Jika kamu dapat mendengar saya, buka mulut kamu!’ Dan ia membuka mulutnya. Lalu ia berkata lagi, ‘Sekarang tutup mulutmu!’ dan ia pun menutup mulutnya.”
“Saya katakan pada perawat yang memeriksa suami saya, ‘Apakah saya bisa bicara dengannya?’ Ia pun menjawab, ‘Ya, bicaralah. Saya pikir ia bisa mendengarkanmu’
“Lalu Sharon datang kepada saya dan berkata bahwa banyak orang berdoa untuk saya, bahwa Tuhan akan menyembuhkan saya, dan bahwa dia mengasihi saya. Itulah yang pertama kali saya ingat setelah  1 ½ bulan koma,”
Duane sadar dari komanya tanggal 15 Maret dan berangsur-angsur kekuatannya pulih. Tapi, Duane masih harus melewati rintangan-rintangan yang besar.
“Mereka berkata bahwa jika ia sadar dari koma, kehidupannya akan sangat suram. Mereka berkata, ia harus ditransplatasi jantung, ia harus cuci darah seumur hidup, ia juga akan menderita diabetes, ia akan memerlukan insulin”
Tubuh Duane yang kuat kini menjadi lemah. Ia perlu belajar kembali bagaimana untuk menelan, makan dan berjalan.
“Saya memohon kepada Tuhan untuk membangkitkan saya dari tempat tidur. Jika Engkau mau, saya akan memberikan kepada-Mu segala kemuliaan. Saya akan beritahukan kepada siapapun yang saya kenal tentang apa yang Engkau lakukan”
Kurang dari satu bulan kemudian, Duane kembali bekerja dan ia disembuhkan secara sempurna. Saat ini ia menjalani gaya hidup yang aktif dimana Dokter berkata sebelumnya bahwa hal itu mustahil. Dokternya menuliskan,
“Saya mengatakan bahwa proses pemulihan ini tentu saja tidak normal atau terduga, saya belum pernah menyaksikan siapapun yang separah Bapak Andrews yang berhasil sembuh dengan total”
“Tuhan memulihkan segalanya secara total! Ia memulihkan pankreas saya, hati saya, ginjal saya, Jantung saya bahkan kembali sama seperti sebelum hal ini terjadi. Paru-paru saya sempurna. Tidak ada yang salah lagi dengan saya sama sekali. Tuhan memulihkan saya secara sempurna,”
“Saya katakan pada orang apa yang pendeta saya katakan kepada saya, ‘Ini bukan saatnya untuk menanginisi, tapi ini saatnya untuk percaya’. Saat sesuatu yang paling suram terjadi, justru Tuhan mau masuk, sebab saat itulah DIA mau memperoleh segala kemuliaa”
“Saya masih hidup disini, meski menurut semua standar medikal itu tidak mungkin. Ini adalah sebuah kesaksian bagi umat Tuhan, inilah alasan mengapa saya disini. Oleh karena kekuatan dari sebuah doa,” demikian Duane menutup kesaksiannya. 
Sumber Kesaksian:
Duane Andrews

 

Senin, 26 September 2011

Kekayaan dan Perdukunan Hancurkan Jiwaku


detail_imgSelama bertahun-tahun hidup Onah Wijaya dihantui mahluk halus. Mahluk-mahluk dari kuasa kegelapan itu mengikat dan mengganggu dirinya terus menerus. Hal ini membuat kehancuran pada keharmonisan dirinya dan keluarga. Inilah salah satu konsekuensi yang harus Onah terima karena sebelumnya dirinya bersekutu dengan kuasa gelap melalui dukun dan paranormal yang sering ia temui untuk mengejar kekayaan.

Di usia tujuh tahun, ternyata Onah telah dianggap meninggal setelah tiga hari tiga malam tidak bernyawa, liang lahat telah disiapkan dan Onah telah dimasukan kedalam peti mati untuk dikuburkan. Namun keluarga malah membawa Onah kepada seorang dukun. Usai dibuat sesajen dan hal okultisme lainnya, Onah hidup kembali.
Kehidupan mudanya dilalui dengan tanpa keberuntungan. Sang ayah lalu membawanya kembali kepada seorang dukun yang dipercaya akan mengubah hidup Onah. Sebuah mantra dalam bedak mukanya diberikan agar dapat menarik perhatian banyak lelaki. Bahkan Onah dimandikan kembang agar jodohnya lancar.
Enam tahun menjalani asmara dengan seorang pria bernama Aris Rohandi, membuat keduanya memustuskan untuk menikah. Namun kondisi ekonomi yang sulit dan profesi sang suami yang seorang pedagang membuat kehidupan Onah terasa sulit. Mereka pun berdua berinisiatif untuk pergi kepada ayah Onah untuk membantu memecahkan masalah tersebut.
Ayah Onah pun memberi mereka sebuah jimat yang dipercaya sebgai penglaris dagangan dengan sejumlah syarat yang harus dilakukan yaitu membakar kemenyan pada hari tertentu dan dilarang berjualan saat tanggal lahir mereka. Lalu kehidupan ekonominya pun menjadi bagus dan dagangannya selalu laris terjual. Keadaan ini membuat mereka tamak dan terus mengejar ambisi untuk mengejar kekayaan pribadi.
Namun sebuah pantangan terlupakan oleh mereka. Dikuasai ketamakan, mereka berjualan pada hari lahir mereka. Sektika itu pula usaha mereka kandas. Dan keadaan ekonomi mengalami kejatuhan. Hal ini mempengaruhi keharmonisan keluarga. Mereka kerap saling bertengkar. Suasana rumah tangga berubah penuh amarah. Terkadang sang anak yang tidak mengetahui sebab akibat ikut menjadi sasaran kemarahan emosi Onah.
Ditengah amarah dan emosinya yang memuncak, Onah kembali merapal mantra dan jimat, namun kali ini dirinya menantang agar siapapun roh halus yang memakan kemenyan yang ia bakar untuk keluar. Hal ini membuat roh halus keluar dan mulai mengganggu kehidupan Onah secara jelas. Gangguan roh halus ini diperparah dengan kenyataan bahwa sang suami ternyata diketahui sebelumnya telah mempunyai keluarga lain sebelum menikah dengan Onah. Hal ini membuat Onah semakin terpukul dan terganggu.
Suara-suara mahluk halus itu semakin menganggu onah terus menerua. Adakalanya dirinya tidak bisa tidur nyenyak dan terjaga hingga delapan hari delapan malam. “Saya engga bisa tidur, kalo mau tidur ada suara yang bilang ; saya kan malaikat Tuhan yang dibuang sama Allah ke bumi, Onah kamu kan teman saya, katanya, pokoknya stress, ada suara koq, gakada orangnya,” kenang Onah. “Dirinya suka mendengarkan suara iblis,” tambah sang suami.
Mahluk itu terus meneror Onah dan membuat keluarga itu menjadi tidak sejahtera. Onah pun dibawa kepada sang guru (dukun) dari ayah Onah. Lalu dirinya pun mandi kembang dan dibawa ke sebuah kuburan, diberikan mantra untuk dibawa ke rumah. Namun hal ini malah menambah parah keadaannya. Sang suami pun membawa Onah ke rumah sakit jiwa untuk diperiksakan kejiwaannya. Namun tidak ditemukan gangguan pada jiwa Onah. Malah sang dokter berujar, ““Ibu percaya kan sama Tuhan? Kalo ibu percaya, ya pasti Tuhan ada.”
Namun roh halus yang mengintimidasi Onah malah berkata, “Dokter itu bohong, tidak ada Tuhan dihati kamu, yang ada saya,” ujar Onah menuturkan perkataan sang mahluk halus. Obat yang didapat dari dokter tetap tidak menolongnya. Lalu Onah masih terus dibawa ke seorang dukun dan meminum ramuan jampi. Tetapi hasilnya sama saja, dirinya terus tertekan oleh intimidasi roh halus.
Disaat keadaan mereka terpuruk, melalui cerita seorang kerabat sang suami, Aris lalu mereka meminta bantuan kepada seorang hamba Tuhan untuk berkonsultasi dan didoakan. Perubahan pun segera terjadi. Kuasa Tuhan menaungi kondisi Onah. “Tidur pules banget, roh saya itu bangun terus ada tangan megang mata saya. Terus ada suara berkata bangun, dan baca Alkitab. Bangkitlah menjadi teranglah sebab terangmu datang, Yesaya 60 ayat 1,” kenang Onah pada titik baliknya.
Setelah kejadian itu Onah merasa kehausan akan Firman Tuhan. Pada suatu saat ketika dirinay duduk dibarisa paling depan kebaktian kaum ibu, Onah mulai menangis dan merasa hadirat Tuhan turun atasnya. Lalu dirinya terus mengikuti ibadah dan dirinya merasa sejahtera. Kuasa Tuhan mulai mematahkan setiap perjanjiannya dengan roh halus. Dirinya kini lepas dibebaskan. “Ada ketenangan dalam hati saya, sukacita, ada damai dalam hati dan keluarga saya, suara setan-setan roh jahat sudah hilang,” ujar Onah.
Perubahan Onah mulai dirasakan sang suami yang merasa bersyukur atas Kuasa Tuhan dalam kehidupan keluarga mereka. “Sekarang (Onah) udah lembut, sama anak sayang, sama suami sayang banget. Keluarga kami, anak kami dipulihkan semuanya. Hidup tenteram damai sejahtera.” Seru sang suami.
“Saya sadar bahwa cari kekayaan ke dukun semua itu sia-sia dan tidak ada sukacita, yang saya alami cuma penderitaan dan penyakit. Sya percaya bahwa Yesus sudah mati dikayu salib menolong saya dan menyembuhkan saya.” Akhir Onah mengucap syukur atas karya Tuhan yang luar biasa terhadap diri dan keluarganya. 

Sumber Kesaksian: 
Onah Wijaya



 

Minggu, 25 September 2011

Kesuksesan Samuel Membawa Petaka


Kesuksesan tidak selalu berdampak positif bagi yang mengalaminya. Tanpa karakter yang kuat, kesuksesan  dapat membuat seseorang lupa diri. Salah seorang mengalami lupa diri saat sukses seperti ini adalah Samuel Lakahena.

detail_imgKisahnya dimulai saat ia baru saja mendapatkan jabatan baru dan diperkenalkan oleh seorang rekan kerjanya pada seorang wanita, Ita Purnamawardani. Tiga bulan menjalin hubungan, Ita langsung meminta Samuel menikah. Pernikahannya terlihat bahagia, apa lagi sang istri tidak lama kemudian mengandung. Namun inilah pengakuan Samuel:
“Waktu istri saya mulai hamil, saya masih bisa selingkuh.”
Yang lebih kejam lagi, Samuel selingkuh dengan wanita yang mengenalkannya pada sang istri yang tak lain rekan satu kerjanya dan juga tetangganya.
“Awalnya mungkin karena kasihan, karena dia sering curhat akhirnya kami jadi berhubungan seperti itu,” demikian jelas Samuel.
Hubungannya dengan wanita selingkuhannya membuat sikap Samuel berubah, semua itu dilakukannya untuk menutupi kecurigaan sang istri.
“Saya kasar sama dia, dengan dia diam, saya pikir masalah selesai.”
Tapi sebaik apapun kebusukan ditutupi, baunya pasti tercium juga. Demikian juga dengan perselingkuhan Samuel, apa yang tidak pernah dipikirkannya terjadi. Dua orang polisi mendatangi rumah Samuel. Istrinya yang sedang hamil tua shock saat Samuel di cokok oleh polisi.
“Saya melihat istri saya dalam kondisi seperti itu, saya hanya bisa menyesali diri saja..” ungkap Samuel.
Selepas Samuel dibawa oleh polisi, tetangganya yang adalah suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Samuel datang kepada Ita dan menjelaskan bahwa Samuel itu telah menghamili istrinya. Itu sebabnya ia melaporkan Samuel kepada polisi.
“Kok ada masalah seperti ini, saya ngga mau anak ini lahir.. Setelah saya nangis, saya sadar kalau saya pukulin perut saya nanti anak saya lahir cacat,” demikian Ita bertutur sambil matanya berkaca-kaca.
Sekalipun telah disakiti, namun masih ada cinta di hati Ita untuk Samuel. Karenanya, Ita dengan setia tetap mengunjungi Samuel di penjara. Penyesalan dan maaf, itu yang terlontar dari mulut Samuel. Tapi penyesalan itu ada saat ia dibalik jeruji, ketika ia telah bebas dan kembali bekerja, semua penyesalan itu tidak diingatnya lagi.
“Dengan gampang sekali saya mendapatkan uang, akhirnya saya pacari dua orang karyawan saya. Waktu yang harusnya buat istri, saya pakai untuk bersama mereka.”
Jauh dilubuk hati Samuel, sebenarnya ia tidak ingin menjadi seperti itu. Prilakunya tak jauh beda dengan prilaku ayahnya, pribadi yang ia benci.
“Begitu ibu saya hamil, bapak saya tidak bertanggung jawab,” tutur Samuel. “Saya belum pernah mengenal sosok seorang ayah di rumah, hidup maunya saya sendiri. Tidak ada yang bisa melarang.”
Tapi kini, dirinya jadi seperti sang ayah. Ia menjadi pria yang tidak punya perasaan, bahkan ia dengan berani membawa wanita selingkuhannya ke rumah. Suatu hari, salah seorang selingkuhannya memberitahu Ita bahwa Samuel tengah bersama seorang wanita. Sudah tak tahan dengan ulah Samuel, Ita pun mendatangi rumah wanita itu.
“Kalau kamu sayang sama suami saya, kamu ambil juga ngga papa!” demikian ucap Ita sambil menggandeng anaknya. “Saya rela kok, ambil aja. Tapi panggil orangtua kamu!”
“Kamu juga,” tunjuk Ita pada Samuel. “Panggil orangtua kamu, silahkan daripada kamu berbuat zinah!”
Untuk menenangkan keadaan, akhirnya Samuel pulang kerumah. Tiba dirumah, Samuel seperti telah dibutakan oleh cinta sesaatnya dengan wanita selingkuhannya.
“Waktu itu saya sudah kalut, ya sudahlah. Ini sudah tidak bisa dipertahankan. Kita bubar saja..” permintaan cerai itu akhirnya dilontarkan oleh Samuel.
Ita seperti tidak percaya Samuel tega mengatakan hal itu, hatinya hancur. Padahal dirinya sudah mengorbankan banyak hal untuk mempertahankan rumah tangganya, termasuk perasaan dan harga dirinya.
”Pengin saya, rumah tangga itu harmonis,” ucap Ita. “Tapi kok dia minta cerai..”
Ita menanggapi serius pernyataan Samuel, ia pun mengemas barang-barang miliknya dan anaknya. Tapi tiba-tiba Samuel datang.
“Maafin saya ya… Saya sangat sayang sama kamu,” demikian ungkap Samuel.
“Saya cuma bisa bilang saya nyesal. Tapi itulah perbuatan-perbuatan saya. Saya takut, sampai saat ini pun saya masih takut, saya takut anak saya mengalami seperti apa yang saya lakukan pada orang lain,” jelas Samuel.
Samuel sungguh beruntung memiliki istri seperti Ita yang begitu berbesar hati menerima permintaan maafnya yang kesekian kalinya.
Tapi badai belum selesai menerpa rumah tangga Samuel dan Ita. Perusahaan tempat Samuel bekerja gulung tikar karena krisis, dan Samuel pun dirumahkan. Tanpa pekerjaan dan uang, Samuel pun putus dengan wanita-wanita selingkuhannya. Saat itu, dirumah memperhatikan istri dan anaknya yang masih tetap rajin beribadah, muncul sebuah kegalauan di hati Samuel.
“Timbul dalam benak saya, harusnya saya jadi sosok ayah yang baik. Harusnya saya menjadi nahkoda yang baik. Tapi saat itu bukan saya yang jadi nahkoda, tapi saya yang jadi anak buah. Saya lihat anak saya antusias dan suka beribadah. Kenapa saya ngga? Disitu saya merasa malu, merasa tertuduh terhadap diri saya sendiri.”
Melihat ketekunan istri dan anaknya, akhirnya Samuel memutuskan untuk membuat sebuah langkah yang akan mengubah hidupnya.
“Aku boleh ngga ikut?” demikian tanya Samuel pada sang istri yang akan pergi beribadah.
Dengan sangat antusias dan gembira  Ita menjawab, “Boleh… ngga ada yang larang kok..”
Melihat tanggapan istri dan anaknya, Samuel bersemangat. Ia tahu bahwa masih ada istri dan anaknya yang mengharapkannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sejak itu, Samuel mulai rajin mengikuti berbagai ibadah. Hingga suatu hari di sebuah seminar rohani, ia mengalami sesuatu dalam batinnya.
“Disitu ada banyak sesi yang memberkati saya, terutama hal mengampuni dan mengaku dosa. Disitu saya belajar mengampuni bapak saya sekalipun dia menyakiti saya. Disitu saya dapat, kalau saya tidak mengampuni bapak di dunia, bagaimana Bapak di Sorga mau mengampuni saya. Saat itu saya juga mengakui dosa-dosa saya. Pada saat saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya secara pribadi, saya merasakan bahwa dosa-dosa saya sudah diampuni. Akhinya saya diingatkan bahwa seorang imam yang baik itu dia harus bisa melindungi, dia harus berdoa, dia harus bisa menjaga keluarganya. Luar biasa, lega banget.”
Setelah mengikuti seminar tersebut, Samuel langsung menghubungi istrinya melalui SMS, “Saya minta ampun sama dia, dan puji Tuhan ada kata pengampunan buat saya.”
Berlahan-lahan, kepercayaan Ita pada Samuel mulai pulih. Ita bukan hanya melepaskan pengampunan pada Samuel, namun juga pada wanita-wanita mantan selingkuhan suaminya. Kini, Samuel dan Ita menjalani babak baru dalam kehidupan rumah tangga mereka.
“Saya bisa berubah seperti ini, itu karena kuasa Tuhan. Istri saya sendiri tidak sanggup untuk mengubah saya. Hanya Yesus saja, Tuhan yang memampukan saya dan merubah saya,” demikian ungkap Samuel menutup kesaksiannya. 
Sumber Kesaksian:
Samuel Lakahena

 

Sabtu, 24 September 2011

Demi Pengakuan, Paulus Rela Tiduri Banci


detail_imgPergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik, itulah yang terjadi atas hidup Paulus Setiawan. Sewaktu kecil, Paulus dimata orangtuanya adalah anak yang baik. Namun karena salah memilih pergaulan, ia melakukan pencarian jati diri dengan cara yang merusak di masa remajanya.

“Orangtua saya tidak memiliki cukup peranan dalam mengarahkan pergaulan saya,” ungkap Paulus. “Yang saya ingat, mereka pernah berkata ‘Ya, karena anak laki-laki sudah seharusnya seperti itu.’”
Sikap pembiaran ini membawa Paulus kepada sikap yang semakin liar.
“Kelas dua SMP, itu pertama kali saya mengenal seks. Saya diajak teman hanya untuk mengantar saja, tetapi pada kunjungan-kunjungan selanjutnya saya mulai jatuh dalam seks.”
Petualangan Paulus tidak berhenti disana, ia mulai berani menjamah dunia okultisme.
“Waktu itu ada seorang teman yang mengajak pergi ke seorang tua yang dikenal memiliki ilmu-ilmu. Waktu itu saya juga diisi. Diberi rapalannya, dan ngalami prosesinya.”
Sejak itu, prilaku Paulus berubah drastis. Ia menjadi pribadi yang sensitive dan mudah tersinggung. Sikap Paulus kepada anggota keluarganya pun menjadi sangat kasar dan membuat mereka semua takut kepadanya.
“Akhirnya pada kelas 3 SMP, saya memilih untuk ke Bandung,” tutur Paulus.
Bukannya bertambah baik, kepindahan Paulus ke bandung membawanya ke sebuah pergaulan yang semakin buruk. Memasuki SMA, Paulus lebih sering bolos sekolah dan mulai terlibat dengan gang-gang motor.
“Saya pernah ikut dengan gang motor saya berkelahi dengan gang motor lain. Kami kalau berkelahi seperti itu biasanya sudah membawa senjata, mulai dari samurai, pisau kecil, hingga stik softball.”
Keinginan Paulus untuk membuktikan kejantanannya di hadapan teman-temannya membuatnya melakukan sesuatu yang diluar batas kewajaran.
“Di Bandung umumnya, seks menyimpang dengan banci itu jadi salah satu style. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya lihat banci-banci disana begitu cantik. Bahkan menurut saya lebih cantik dari wanita. Kalau kita nongkrong atau bahkan sampai melakukan hubungan seks dengan banci, itu berarti kami lebih baik dari gang motor lain, lebih nekat..”
Suatu malam ditengah rencananya untuk melakukan perkelahian, Paulus dalam keadaan mabuk berat mengantarkan pacarnya. Namun rencananya untuk melakukan perkelahian itu tinggal rencana, karena sebuah bencana lain sedang mengintainya.
“Saya antarkan pacar saya pulang, dan saya pakai topi lalu helm two piece itu saya taruh di atas topi tersebut. Ditengah jalan, helm yang saya pakai itu jatuh menutupi wajah saya. Saya tidak bisa melihat jalanan, dan saat itulah terjadi kecelakaan.”
Akibat kecelakaan itu wajah Paulus robek dari kening atas sampai ke dagunya. Gigi bagian bawahnya semuanya tanggal dan hidungnya hancur. Kakinya patah dan mata kakinya keluar dari jalurnya. Paulus pun dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya di ujung tanduk.
“Disitulah saya mengalami sebuah kematian, karena saya rasa roh saya keluar. Saya merasa terbang, naik terus dan tambah jauh, tapi saya bisa melihat ke bawah, saya bisa melihat ambulan seperti tanpa atap. Saya melihat teman-teman kost saya sedang duduk, sedang pakai paju apa dan sedang melakukan apa.”
Ketakutan yang mencekam, itulah yang dirasakan Paulus. Sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, kini harus ia hadapi.
“Saya takut sekali. Saya tahu sekali bahwa saya mati, saya akan dibawa pergi. Saat itu saya berusaha memberontak dan ingin turun lagi. Setelah itu roh saya kembali pada tubuh saya.”
Paulus akhirnya sadar kembali, namun bagaimana reaksinya ketika tahu bahwa ia akan cacat selamanya?
“Pertama kali saya tahu keadaan wajah saya, saya sangat kaget, sangat shock. Karena mata saya tidak simetris dan hidung saya hancur, wajah saya jadi bengkak,” tutur Paulus.
Dalam kondisinya yang kritis itu, sang ibu dengan setia menemani dan merawatnya. Ibunya hanya bisa menenangkan Paulus dan memberi dukungan di tengah keputusasaan yang dialami Paulus, dan usahanya merusak diri.
“Selama tiga bulan setelah kecelakaan, saya tidak keluar rumah. Hanya merokok, minum, menghisap ganja dan nonton VCD porno. Saya tidak berpikir untuk bertobat, untuk memperbaiki kehidupan, justru waktu sadar saya sudah mati cenderung lebih nekat.”
Hingga suatu hari, keluarganya mendapatkan kunjungan dari seorang hamba Tuhan dan rombongan jemaatnya. Kebetulan mereka saat itu menginap di rumahnya.
“Rombongan itu kebanyakan anak muda, akhirnya hal itu menjadi daya tarik buat saya. Karena saya melihat mereka masih muda kok bisa hidup baik, normal, tidak seperti saya. Besoknya saya diajak untuk hadir dalam sebuah ibadah,” ungkapnya.
Dalam ibadah itu, Paulus mulai merasakan sebuah pengalaman baru. “Sementara ibadah berjalan, saya duduk di belakang, saya sendirian. Saya ingat sekali lagu yang dinyanyikan waktu itu adalah ‘Bangkit Srukan Nama Yesus.’  Sementara yang lain berdiri dan bertepuk tangan,  saya duduk di belakang dan menundukkan kepala. Justru merenung. Sementara lagu itu dinyanyikan, Tuhan seperti memutar klip kehidupan saya, dosa-dosa saya. Kenakalan dan kejahatan saya. Saat itu, saya benar-benar lemas. Benar-benar merasa capai, lelah, dan muncul paradigma yang hari saya ingat sekali dan saya yakin itu suara Tuhan.”
Saat itu, inilah yang muncul dalam pikiran Paulus, “Kalau kamu merokok hari ini dan merokok tahun depan, bedanya apa?” Belum sempat Paulus menjawab muncul pertanyaan kedua, “Kalau kamu mabuk, minum hari ini sama kamu mabuk dan minum tahun depan, itu bedanya apa?”
“Sampai yang ketiga kali, pertanyaannya sama,” tutur Paulus. “Kalau kamu main wanita hari ini, sama main wanita tahun depan bedanya apa?”
Pertanyaan-pertanyaan yang memberondong pikiran Paulus itu membuatnya menyadari bahwa dirinya telah semakin jauh dari Tuhan.
“Dari situlah saya sadar, dan mau mulai memperbaiki kehidupan.”
Pertobatan Paulus tidak main-main, ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan.
“Kalau sebelumnya saya nakal, saya jahat, saya berdosa, bahkan cenderung nekat, saya juga mengambil komitmen sekarang saya harus sungguh-sungguh melayani Tuhan. Saya harus sungguh-sungguh ikut Tuhan. Saya bersyukur karena saya memiliki Yesus sekarang ini. Dialah yang sudah membawa saya keluar dari kehidupan saya yang lama untuk saya punya masa depan. Untuk saya memiliki harapan,” demikian Paulus menutup kesaksiannya. 
Sumber Kesaksian:
Paulus Setiawan

 

Selasa, 06 September 2011

Trauma Berbuahkan Ketakutan Hidup

                                                      Trauma Akibat Kematian Sahabat
detail_imgNanung hanya bisa berdiri lemas dengan lutut gemetar dan mata terbelalak ketika melihat sahabatnya yang bernama Farid sudah tergeletak tak bernyawa - berlumuran darah di atas aspal dan isi kepalanya berceceran di tengah jalan. Farid ditabrak sebuah mobil berkecepatan tinggi ketika ia sedang menyeberang jalan bersama Nanung. Waktu itu mereka berdua baru saja pulang dari sekolah. Meskipun kejadian itu Nanung alami ketika ia masih duduk di bangku kelas 4 SD, namun trauma yang ditimbulkannya terus melekat hingga ia beranjak dewasa.
Berkali-kali kejadian tersebut menghantui pikiran Nanung. "Bagaimana jika aku mati nanti?" pikir Nanung. Semakin dewasa pemikiran Nanung pun semakin berkembang dan ia berusaha untuk hidup dengan baik. Segala perilaku dan moral yang ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari sangat baik dan ia sendiri tidak pernah terlibat dengan pergaulan bebas yang merugikan, seperti halnya mabuk-mabukan, berjudi atau main pelacur. Itu semua ia lakukan supaya nantinya bisa selamat setelah kematian. Nanung percaya bahwa setelah kematian ada kehidupan yang kekal yang harus ia jalani, yaitu di akhirat. Keluarga Nanung yang semuanya muslim dan tinggal di daerah Sukra Indramayu, juga hidup taat dengan nilai-nilai kebenaran yang mereka mengerti pada waktu itu.
Bekerja Di Jakarta Sambil Belajar Ilmu Kebal
Tahun 1990, Nanung pergi ke Jakarta dan bekerja sebagai petugas keamanan dan penjaga parkir di ITC Mangga Dua. Dari kecil Nanung takut sekali mati. Dipicu oleh banyaknya risiko yang harus ia hadapi selama bekerja di Jakarta, Nanung pun akhirnya menuruti nasihat ayahnya yang menyarankan untuk mempelajari ilmu kebal agar ia bisa memiliki keberanian dan tidak bisa mati. Pada mulanya, Nanung masih diantar oleh sang ayah pergi belajar ilmu kebal pada suatu perguruan bela diri di daerah Bekasi, yaitu Bulak Kapal. Tapi pada hari-hari selanjutnya ia pergi seorang diri untuk berlatih. Hampir setiap malam ia mempelajari ilmu kebal di tempat itu. "Ada beberapa tahap yang harus saya alami. Setiap kali saya datang selalu diisi dan diberi mantra-mantra sehingga saya bisa kebal terhadap silet, golok, celurit, bahkan peluru," ujar Nanung. Setelah memiliki kesaktian baru, Nanung mulai menyadari bahwa secara tidak langsung ilmu kebal yang ia pelajari membawa dampak buruk terhadap karakter pribadinya. Ia menjadi seorang yang temperamental dan mudah sekali emosi. Dalam dirinya tidak ada perasaan takut sama sekali terhadap siapa pun.
Bertemu Kekasih Dan Menikah
Ketika ia bekerja di daerah Mangga Dua, Nanung berkenalan dengan seorang gadis penjaga kantin di lantai dasar ITC bernama Soleha. Setelah perkenalan itu, Nanung semakin sering mendekati Soleha. Mereka berpacaran dan memutuskan untuk menikah pada tanggal 11 Juni 1993 di Pemalang. Selama berpacaran hingga awal mereka menikah, Nanung menunjukkan sikap yang baik kepada sang isteri. Bahkan Soleha tidak pernah tahu bahwa Nanung pernah memarahi tetangga Soleha dan mengancamnya dengan sebuah gunting. Pada waktu itu Nanung menghampiri tetangga Soleha yang sering membicarakan hubungan mereka. Karena saking takutnya, tetangga Soleha meminta maaf.
Munculnya Sifat Jahat Yang Terpendam
Kekasaran dalam rumah tangga Nanung mulai terlihat ketika ia cemburu dengan Soleha, isterinya. Nanung mengancam Soleha dengan sebilah pisau dan membuat Soleha lari ketakutan keluar rumah. Setiap kali ia marah dan bertengkar dengan isterinya, Nanung selalu memukul Soleha dengan peci dan menghancurkan benda apa saja yang ada di dalam rumah. Kejadian mengguyur Soleha dengan minyak tanah bukanlah hal yang aneh dalam rumah tangga mereka. Nanung sering kali berniat membakar isterinya ketika ia sedang emosi. "Setiap kali marah, sering kali saya ingin bakar isteri saya. Biasanya sudah gelap mata dan tidak lagi terpikirkan belas kasihan. Sudah hilang. Tetapi setiap melihat mata dia yang ketakutan, itu yang membuat saya tertahan untuk tidak melanjutkan menyulutkan api ke tubuh isteri saya," ujar Nanung. Hal itu terus berlangsung sampai Nanung mempunyai seorang anak. Dihajarnya Soleha seperti biasanya dan pernah ia menendang Soleha hingga terpental dan kepalanya membentur pintu.
Pindah Ke Sukra Membuka Usaha Pijat
Nanung pun sering tidak mempedulikan isterinya karena sibuk dengan kegiatannya mengajari ilmu kebatinan kepada anak-anak muda di Sukra. Pada tahun 1994 Nanung berhenti kerja, dan bersama Soleha mereka pindah ke rumah orang tua Nanung di Sukra. Di sana Nanung sempat menganggur cukup lama. Kehidupannya begitu susah, sampai-sampai untuk biaya melahirkan anak pertama pun, ia harus menjual barang-barang. Orang tua Nanung yang bekerja sebagai penjual nasi goreng selalu membantu di saat mereka tidak punya uang.
Selain ilmu kebatinan, Nanung juga pernah mempelajari ilmu pijat refleksi. Berbekal ilmu itulah kemudian Nanung mulai membuka usaha ini setelah banyak orang meminta pertolongan kepadanya. "Saya melakukan usaha ini dengan menggunakan metode metafisika (tenaga dalam) agar tidak terlalu sakit," ujar Nanung. Sampai pada suatu hari ada seorang pasien yang bernama Haryono yang menolak diobati dengan tenaga dalam. Ternyata Haryono ini adalah orang kristen. Nanung terus menawarkan metode pengobatan dengan tenaga dalam, namun Haryono terus menolaknya. Nanung semakin dibuat penasaran dengan pendirian Haryono. Dari perkenalan itu hubungan mereka semakin terjalin erat. Haryono sering memberi kesaksian dan bercerita bahwa Yesus itu adalah Tuhan. Nanung terus mendiskusikan hal tersebut dengan rasa penasaran untuk mencari jawaban yang selama ini belum ia temukan.
Menemukan Sebuah Alkitab
Karena banyaknya pasien yang berasal dari Pamanukan, Nanung memutuskan untuk pindah dan mengontrak rumah di sana. Pada bulan Agustus 1998 Nanung beserta keluarga menempati rumah ibu Sanmoy. Pada hari pertama ia menempati rumah kontrakan tersebut, ada sebagian peralatan yang tidak dibawa oleh pengontrak sebelumnya pada waktu itu. Ketika Nanung sedang berusaha mencari kunci rumah, ia menemukan sebuah buku yang di sampul depannya bertuliskan Alkitab. Nanung kemudian tertarik untuk membuka buku tersebut. "Yang pertama kali saya buka adalah kitab yang berjudul Kejadian. Saya bertanya dalam hati, "kejadian apa?" Lalu saya mulai membaca buku tersebut. Ternyata isinya sangat menarik karena hampir sama dengan kitab yang aku miliki, bahkan lebih lengkap," ujar Nanung. Ia masih belum tahu apakah buku yang ia temukan adalah Injil yang menjadi kitab sucinya umat Kristen. Nanung terus membacanya, dan ketika sampai pada perjanjian baru ia baru menyadari bahwa buku itu adalah Injil. Nanung semakin tertarik untuk mempelajari apa yang tertulis di dalamnya.
Hari-hari selanjutnya, Haryono dan Nanung semakin sering bertemu. Dan kesempatan itu Nanung manfaatkan untuk bertanya mengenai apa yang tertulis di dalam Alkitab yang tidak ia pahami. Nanung semakin banyak menerima firman Tuhan karena hampir setiap hari Haryono datang ke rumahnya dan menceritakan tentang Yesus. Kedekatan mereka berdua sempat mengundang rasa cemburu dari pihak sang isteri. Tetapi Haryono bisa membaca hal tersebut dan ia juga mulai membagikan firman Tuhan kepada Soleha. Salah satunya tentang perkawinan. Haryono menjelaskan bahwa orang Kristen hanya menikah satu kali dan tidak boleh bercerai. Hal itulah yang membuat Soleha semakin tertarik untuk lebih mengenal bagaimana cara hidup orang Kristen.
Penginjilan Haryono Membuahkan Hasil
Setelah bergumul cukup lama, Nanung kemudian minta tolong kepada Haryono untuk didoakan pelepasan dari kuasa roh jahat yang ada dalam dirinya. Haryono mengajak Nanung bertemu dengan bapak gembala GKKD Pamanukan dan Bandung. Mereka pun menyepakati satu hari yang telah ditentukan untuk melakukan pelepasan di gereja. "Waktu itu saya memutuskan untuk mengikuti Yesus karena saya mau hidup saya tidak lagi dikuasai ketakutan," ujar Nanung.
Ketika pelepasan berlangsung, Nanung melakukan gerakan seperti orang mengamuk. Ia sempat menggeram seperti harimau dan menggeliat seperti ular di lantai selama kurang lebih satu jam. Kejadian aneh tersebut disaksikan juga oleh beberapa orang jemaat gereja setempat. "Setelah dilepaskan dan didoakan, saya merasakan ada sesuatu yang selama ini saya pikul, tiba-tiba diangkat. Dan kedamaian yang sebelumnya tidak ada, sepertinya mengalir... mulai mengalir," ujar nanung.
Keputusan Untuk Menerima Yesus
Dua bulan sudah Nanung mengenal Yesus dan mempelajari isi Alkitab yang ia temukan semenjak pindah ke Pamanukan. Pada tanggal 26 Desember 1998, Nanung dan Soleha memutuskan untuk menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan dan dibaptis bersama-sama di Wisma Buni Hayu, Subang oleh bapak gembala Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) Pamanukan. Dan tahun berikutnya, pada tanggal 28 November, Nanung dan Soleha diteguhkan dalam pernikahan. "Ada satu kejadian dimana isteriku pada jam dua malam tiba-tiba bangun dan menyanyikan satu pujian kepada Yesus. Dari situlah saya merasa yakin kalau Yesus adalah Tuhan, karena sebelumnya isteriku tidak tahu sama sekali tentang lagu-lagu gereja itu," ujar Nanung dengan rasa haru dan bahagia.
Pemulihan Yang Tuhan Berikan
Kehidupan Nanung semakin dipulihkan. Karakternya yang keras terhadap isteri berubah menjadi sangat lembut. Rumah tangga mereka bertambah harmonis hingga mereka dikaruniai tiga orang anak. Soleha merasakan kebahagiaan yang tak terkatakan melihat perubahan yang terjadi pada diri Nanung, suaminya. Sehingga timbul ketertarikan dia untuk beriman kepada Yesus karena Yesuslah yang mengubahkan semuanya. Usaha yang dijalani Nanung pun semakin berjalan lancar dan dapat mencukupi segala kebutuhan keluarganya sampai saat ini.

"Saya merasakan bahagia dan bersyukur. Saya melihat bahwa Tuhan sanggup mengubahkan suami saya, yang tadinya pemarah sekarang sudah tidak lagi. Suami saya sudah menjadi lemah lembut bahkan saya merasakan dia semakin sayang pada keluarga," ujar Soleha.
Memenangkan Banyak Jiwa
Tuhan terus bekerja dalam kehidupan Nanung. Banyak jiwa boleh dimenangkan oleh karena pertobatannya. Dengan apa yang Nanung bisa, ia menjadikannya sarana untuk memberitakan Injil kepada semua orang, terutama yang menjadi pasiennya. "Kalau dulu saya menggunakan metode tenaga dalam saat memijat, tapi sekarang sudah tidak menggunakannya lagi. Karena saya tahu hanya di dalam Yesuslah ada kesembuhan sejati," ujar Nanung. Bukan hanya salah satu dari muridnya dulu, bahkan seluruh keluarga Nanung pun sudah bertobat dan percaya kepada Yesus.

"Ketakutan yang selama ini terus menghantui saya, hilang. Saya merasa ketakutan terhadap neraka bukan lagi bagian saya," ujar Nanung menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian :
Nanung

 

Senin, 05 September 2011

Kecemburuan Sebabkan Aku Todongkan Pistol


Pernikahan memang selalu indah. Gaun yang indah, pasangan yang serasi, semua orang tersenyum bahagia buat raja dan ratu sehari itu. Pada tanggal 31 Desember 2001 Indra melangsungkan pernikahan dengan Larissa di Pontianak. Namun, di balik pernikahannya yang terlihat bahagia seperti pernikahan pada umumnya, ada kecaman di baliknya. “Ingat, nanti kalau salaman, aku ga mau liat kamu matanya kemana-mana… Jangan kayak cewek murahan kamu…” kata Indra ketika itu.


detail_img“Nggak harus dengan cara dia teriak atau apa gitu, dengan hanya ngomong begitu saja saya sudah sakit hati,” kata Larissa. Karena itulah, istri dari Indra Hardy ini mengalami trauma, dia tak pernah lagi memandang wajah orang tetapi hanya menundukkan kepalanya. Wanita itu begitu tertekan dan terpaksa. Apa yang menyebabkan semua ini? Mengapa kehidupan mereka tidak begitu bahagia? Bagaimana Larissa bisa jatuh cinta kepada pria yang seperti ini?

Pada tahun 2000, Indra Hardy pulang ke Pontianak. Di sana, dia bertemu dengan temannya yang kebetulan merupakan bos Larissa. Di kantor temannya itu, dia dikenalkan dengan Larissa. Terjadilah hubungan setelah Larissa memberikan nomor teleponnya. Meskipun dia berada di Pontianak dan Indra ada di Sambit, namun hubungan mereka terus berlanjut. Dengan serius, mereka berhubungan. Akhirnya, mereka berkomitmen untuk menikah. Namun, sejak saat komitmen itu dibuat, saat itu juga sifat Indra mulai berubah.

“Saya tidak diijinkan untuk dekat dengan laki-laki. Lama-lama saya tidak punya ruang bebas untuk bergerak lagi.” cerita Larissa. Bahkan, pernah ketika Larissa sempat berbincang-bincang dengan seorang bapak tua yang lewat dan Indra melihatnya, langsung saja Larissa dikurung seharian di rumah. Hal ini terjadi hanya beberapa hari sebelum pernikahan mereka.

Tidak hanya itu, ketika malam hari Indra dengan sengaja mengunci pintu dan menaruh kuncinya di bawah bantal. Semua itu dilakukannya karena kecemburuan yang sudah tidak normal lagi membuat Indra selalu curiga. Malam itu, ketika secara tak sengaja tangan Larissa dekat dengan kunci tersebut, Indra langsung bangun dan menudingnya. “Kamu pasti mau ngambil kunci ini terus keluar ya? Saya tanya sama kamu, kamu pasti suka sama bapak tua itu?” tanyanya penuh dengan kecurigaan.

“Nggak, aku nggak suka” tegas Larissa.

Parahnya lagi, Indra langsung mengambil pistol dan menodongkannya ke Larissa sambil bertanya dengan emosi, “Aku tanya sama kamu, kamu suka dengan bapak tua itu?”

Perlakuan dan kecurigaan yang begitu menjadi-jadi di dalam diri Indra. Apa latar belakang dari perlakuannya yang seperti itu? Indra merupakan anak bungsu di dalam keluarganya. Bagi papanya, hal itu merupakan berkat dan akhirnya dia dimanja. Papanya memberikan semua yang diinginkannya dan terlalu melindunginya. Barangnya tidak boleh disentuh orang lain, kalau tidak, dia akan mengadu pada papanya. Over protective, itulah hasil didikan yang menyebabkan Indra bisa sampai menodongkan senjata kepada Larissa. Dia tak mau Larissa dimiliki oleh orang lain.

“Saya hanya pasrah aja karena merasa daripada saya sama suami yang seperti itu, ya saya mending mati saja. Saya langsung tantang dia ‘Ya sudah tembak aja, gak papa kok paling mati’” kata Larissa. Namun, niat itu urung dilakukan Indra. Larissa pun langsung menelepon mamanya dan bertanya apakah dia harus membatalkan pernikahan itu.

Namun, mamanya mengatakan bahwa di kota sekecil itu, semua berita yang sekecil apapun pasti akan menyebar. Seluruh kota akan tahu dan mamanya tidak mau itu terjadi. Mamanya mengatakan agar dia harus bisa tahan. Dan akhirnya, pernikahan itu pun terjadi.

Setelah menikah, mereka tinggal serumah dengan papa mama Indra. Karena melihat istrinya berbincang-bincang dengan papanya, Indra pun menjadi cemburu. Berbagai pikiran buruk melayang di pikirannya. Dia mendatangi mereka dengan muka marah. Setelah papanya pergi, Indra langsung memberondong Larissa. “Maksud kamu apa dengan papaku?” Indra langsung mengatai-ngatai Larissa dan menyamakannya dengan perempuan diskotik tempatnya sering datangi dulu. Indra menganggapnya begitu hina. “Bisa dibilang dalam kehidupan rumah tangga itu setiap hari ada air mata. Menderita, kecewa, terus tidak aman.” Kisah Larissa tentang keluarganya. Keadaan itu terus berlangsung dan semakin buruk, sepertinya tidak ada jalan keluar.

Suatu hari, ketika saat itu tidak ada pembantu rumah tangga, Larissa yang harus membersihkan rumah. Saat Indra asyik menonton televisi dan bukannya menjaga anaknya, Larissa begitu terkejut mendapati anaknya sedang memakan kosmetiknya. Hal itu membuat Larissa murka. Bukannya menyadari kesalahannya, Indra malah berbalik marah dan mengatakan dirinya capek habis pulang kantor. Akhirnya, Larissa pun mendapatkan pukulan.

Di dalam hatinya, dia seringkali bertanya mengapa keluarganya tidak seperti orang lain yang bahagia. Hal ini membuatnya melakukan bunuh diri sebanyak empat kali. “Setiap minta maaf, ga berapa lama lagi diulang lagi. Sepertinya ini ga ada akhirnya.” Kata Larissa. Lantas sampai kapan?

“Seperti biasa, saya ikut tanding biliar. Cuma pada hari itu, saya merasa sangat aneh. Karena biasanya, bola-bola yang biasanya mudah untuk dimasukkan, pada hari itu susah sekali. Dan saya juga bertemu dengan lawan-lawan main saya yang seharusnya saya bisa menang, tapi ternyata saya kalah. Selama main itu, ada suara yang berkata, ‘Di luar saya itu, kamu tidak bisa apa-apa.’ Ya, perasaan saya campur aduk antara kesal, kaget, dan takut. Wah ternyata, saya itu tidak bisa apa-apa. Hal yang mudah menurut saya aja tidak bisa saya lakukan. Dan itu membuat saya menangis.”

“Saya mengikuti suatu seminar rohani khusus pria. Di seminar itu saya mendapatkan perkataan Tuhan di dalam kitab suci yang berkata, ‘Wahai suami-suami, setiap suami itu harus menghargai istrinya sebagai kaum yang lebih lemah dan hidup bijaksana bersama istri. Dan di saat kita menghargai kita, doa kita tidak terhalang.” Di situlah Indra mulai ditegur dan merasa jauh dari yang dikatakan di Alkitab tersebut. “Saya itu menjadi suami yang sangat jahat. Suami yang tidak bertanggung jawab. Karena saya merasa istri saya itu tidak perlu dihargai. Sebagai istri kan dia wajib melayani suami. Saya telah melukai dia.”

Ternyata, selama ini istrinya juga tak tinggal diam. Dia seringkali berdoa minta agar Tuhan mengubahkan suaminya. Sejak saat itu, timbul penyesalan di dalam hati Indra dan ingin meminta pengampunan kepada istrinya. Kata maaf itupun meluncur dari bibirnya kepada istrinya. Ketika kata maaf itu terucap, sebenarnya sulit bagi Larissa untuk memaafkannya karena kejadian-kejadian sebelumnya yang sudah dialaminya dimana Indra juga minta maaf tapi tetap mengulanginya. “Entah kenapa ya kali ini saya benar-benar percaya, bahwa dia akan berubah.” kata Larissa.

Baru Indra ketahui bahwa suara itu adalah suara Tuhan. Pertobatan yang sungguh-sungguh dia lakukan karena dia dijamah Tuhan. Hal ini membuatnya mengerti bahwa dia begitu kecil dan Tuhan begitu besar. Dia mulai mengasihi istrinya dan menghormatinya. Tidak lagi menganggapnya sebagai pelayan. Secara manusia itu tidak logis, tapi Tuhan bisa nyatakan. Dan karena doanya tidak dikekang, kehidupan mereka berubah. Bahkan anak-anak mereka jadi nempel sama Indra “Satu hal saya tidak kembali ke masa lalu adalah karena Tuhan Yesus. Tuhan yang menjadi teladan buat saya untuk mengasihi keluarga saya. Dari situ saya belajar untuk melayani istri saya, melayani anak-anak saya. Dan dari situ saya menyadari bahwa hubungan kami menjadi lebih dekat.” 



Sumber Kesaksian :

Indra Hardy

 

(^_^)