Laman

Renungan

Rindu mendapatkan renungan setiap hari!
ataupun artikel serta tips2 kesehatan!!
Silakan kunjungi :
Semoga terbekati Lewat Blog ini!
God Bless You Friends
Tampilkan postingan dengan label Daily Devotional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Devotional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Batu Sandungan

2 Korintus 6:3
 "Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela."



Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 70; Ibrani 4; 2 Raja-raja 20-21


Apa yang kita lakukan, bagaimana kita bertingkah laku, semua akan menjadi bahan pengamatan banyak orang. Adalah sangat penting bagi kita untuk terus berproses lebih baik, menjaga setiap langkah, agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Seorang rektor dari sebuah universitas yang bergelar pendeta diceritakan pernah  mengeluarkan sikap yang tidak mencerminkan pribadi yang membawa terang dan garam. Demikian katanya dalam sebuah pertemuan di hadapan seluruh mahasiswa/i nya."Seandainya kampus ini tutup, seandainya kalian semua keluar, saya tidak rugi apa-apa. Saya tetap ditawari banyak peluang yang lebih baik bisa menjadi pilihan saya. Saya tetap hidup melimpah ada atau tidak ada kalian disini."


Bukankah ini sebuah bentuk kesombongan? Tidakkah ia sadar bahwa semua berkat itu berasal dari Tuhan, dan karenanya tidak ada kekayaan atau kelimpahan yang perlu disombongkan?  Belum lagi dalam beberapa kesempatan sikapnya yang merendahkan orang lain, atau melakukan diskriminasi suku dan agama berlangsung di depan banyak orang. Perlu dicatat, bahwa di kampus itu terdapat beragam agama dan suku, baik mahasiswa maupun dosennya. Betapa mengerikannya kekristenan di mata mereka. Bukannya menjadi berkat, kelakuannya sebagai orang teratas di institut itu malah dapat menjadi bahan tertawaan, bahan cercaan, dan  batu sandungan bagi banyak orang.

Kita harus ingat bahwa kedatangan Yesus ke dunia ini pun bertujuan untuk menggenapi kehendak Bapa, dan untuk melayani, bukan untuk dilayani. Tidak ada kamus kesombongan dalam pelayanan Yesus. Keselamatan kita, pemulihan hubungan dengan Bapa, itu menjadi prioritasNya. Dan dengan keteladanan luar biasa, Yesus sendiri menunjukkan seperti apa seharusnya anak-anak Tuhan bersikap dan melayani, menjadi hamba Tuhan yang bisa membawa terang dan garam di dunia.


Sungguh disayangkan jika lewat diri kita orang bukannya mengenal Kristus Sang Juru Selamat, tapi malah menjadi takut, antipati atau alergi. Sikap ekslusif, sikap merasa paling benar, kesombongan dan sebagainya, over acting, memamerkan kekayaan, semua itu bukanlah sikap yang baik yang dikehendaki Tuhan untuk kita lakukan. Orang bisa mengenal Kristus atau malah membenci Kristus beserta pengikutNya lewat sikap, tingkah laku dan perbuatan kita. Maka adalah penting bagi kita untuk menjaga sikap, tingkah laku dan perbuatan kita dalam hidup bermasyarakat. 
Tidak ada gunanya kita rajin berdoa, rajin melayani, rajin membaca Alkitab, rajin meneriakkan nama Tuhan jika tidak didukung perbuatan nyata dalam kehidupan kita.Setiap detik dari hidup kita bisa menjadi kesaksian yang manis, sebaliknya bisa pula menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Selasa, 04 Oktober 2011

Bapa Yang Murah Hati

Yohanes 15:7

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 71; Ibrani 5; 2 Raja-raja 20-21

Seorang remaja yang baru saja mendapatkan meminta pada ayahnya untuk boleh menggunakan mobil keluarga. Ayahnya, yang dikenal pelit, mengatakan kepadanya, "Aku akan membuat kesepakatan denganmu nak. Jika kamu mendapatkan nilai A di sekolah selama semester ini, jika kamu tetap menjaga kebersihan kamarmu, mengerjakan tugasmu di rumah, membuang sampah setiap minggu, dan akhirnya memotong rambutmu, maka saya akan membiarkan kamu mengendarai mobil keluarga. "

Beberapa bulan kemudian, anak itu kembali ke ayahnya dan mengatakan kepadanya bahwa ia telah mendapat nilai A di semester ini, telah melakukan semua tugas-tugasnya, dan membuang sampah setiap minggu. Ayahnya mencatat dan kemudian berkata, "Tapi nak, saya melihat kamu tidak memotong rambutmu?”

Anak itu menjawab, "Tapi Ayah, Yesus memiliki rambut panjang."
"Itu benar," kata ayahnya kepadanya. "Dan Yesus juga berjalan kemana pun Ia pergi. Jadi potonglah rambutmu. "

Untungnya, sebagai orang percaya, kita tidak punya ayah pelit seperti cerita di atas. Kami memiliki Bapa di surga yang mengasihi kita dan rindu untuk memberkati kita. Ia lebih dari dermawan. Yesus berkata, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.” (Lukas 12:32). Jadi kita bisa datang kepada-Nya setiap hari, mencari berkat-Nya dan mencari penyediaan-Nya.
Tujuan doa adalah untuk menyelaraskan keinginan kita sejalan dengan kehendak Tuhan. Dan ketika itu terjadi, kita akan melihat bahwa doa-doa kita dijawab lebih sering secara afirmatif. Yesus menyimpulkan dengan cara ini: "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Jika kita tinggal di dalam Dia, jika kita menghabiskan waktu di dalam Firman-Nya, maka hal itu akan mengubah kita. Ini juga akan mengubah hal-hal yang kita doakan. (Crosswalk.com/Greg Laurie)
Jika Anda hidup di dalam firman-Nya, hati Anda akan selaras dengan hati Tuhan, sehingga apa saja yang Anda minta kepada-Nya akan Anda terima.

Senin, 03 Oktober 2011

Rela Meninggalkan

Lukas 18:28
Petrus berkata: “Lihat, kami telah meninggalkan apa yang kami miliki dan mengikut Engkau!”
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 72; Ibrani 6; 2 Tawarikh 33-34
Ketika seorang pendeta mengunjungi para napi yang akan dieksekusi mati, ia melihat semua tengah menonton televisi di sel masing-masing. Memang setiap napi boleh memiliki televisi hitam putih kecil untuk mengusir kejenuhan. Namun ada satu napi, John Irving, yang tidak punya televisi. Ia asyik membaca buku rohani.
Sang pendeta bertanya apakah ia perlu dibawakan televisi. John menolak. Katanya, “Aku sengaja tidak menonton. Sudah banyak waktu terbuang percuma di masa lalu. Kini hidupku tinggal sebentar. Aku ingin bersiap menghadap Tuhan, dan tak akan kubiarkan televisi menyedot waktu dan perhatianku dari Tuhan!”
Demi memprioritaskan Tuhan, John rela meninggalkan nikmatnya televisi. Simon dan Andreas juga rela meninggalkan jala dengan ikan-ikan di dalamnya. Kehilangan mata pencaharian satu-satunya demi memenuhi panggilan Yesus untuk menjadi penjala manusia. Yakobus dan Yohanes lebih lagi.
Bagi kakak beradik tersebut, menjala ikan sudah menjadi bisnis keluarga yang dikelola secara profesional. Sang ayah punys beberapa karyawan (Lukas 18:20). Namun, ketika Yesus memanggil, mereka pun dengan rela meninggalkan pekerjaan itu dan ayahnya, serta kemungkinan memperoleh warisan bisnis keluarga yang menjanjikan.
Dalam hidup, kita tidak bisa melakukan semua hal. Kita harus memilih mana yang harus didahulukan, mana yang bisa diabaikan. Ini namanya menyusun skala prioritas. Jika Tuhan Yesus dijadikan prioritas utama, ada hal yang perlu kita tinggalkan atau lepaskan; entah hobi, status, pekerjaan, kemapanan, kebiasaan berdosa, dan lain-lain. Adakah sesuatu yang perlu Anda tinggalkan? (Renungan Harian Edisi Tahunan; Penerbit Yayasan Gloria)
Selama Anda menggenggam erat apa yang harus dilepaskan, Tuhan tidak bisa memberi Anda yang lebih baik


Minggu, 02 Oktober 2011

Kesaksian Yang Terbaik

Yohanes 9:25

Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 69; Ibrani 3; Mikha 3-5

Dalam perjalanan selama 8 jam dengan kereta api, saya duduk di sebelah seorang duta besar Amerika Serikat yang telah pensiun. Kami pun segera terlibat dalam perdebatan setelah ia menghela napas sewaktu saya mengeluarkan Alkitab.

Saya langsung menanggapinya. Awalnya, kami saling bertukar kalimat singkat untuk mempertahankan pendapat kami. Namun, lambat laun, percakapan kami diwarnai dengan kisah hidup kami masing-masing. Rasa ingin tahu begitu menguasai kami berdua sehingga kami justru saling mengajukan pertanyaan dan bukan lagi berdebat. Sebagai lulusan jurusan ilmu politik dan pemerhati soal politik, saya pun tertarik mendengar tentang karirnya, dimana ia pernah dua kali menjabat sebagai duta besar yang berperan penting.

Anehnya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya adalah tentang iman saya. Bagaimana saya menjadi “seorang percaya” adalah hal yang paling menarik baginya. Perjalanan kami pun berakhir dalam suasana bersahabat, bahkan kami pun saling bertukar kartu nama. Setelah turun dari kereta api, ia berpaling kepada saya dan berkata, “Menurutku, bagian terbaik dari argumen Anda bukanlah apa yang Anda pikir dapat dilakukan Yesus bagi saya, melainkan apa yang telah dilakukan-Nya bagi Anda.”


Dalam Yohanes 9, sama seperti di atas kereta api itu, Allah mengingatkan bahwa kesaksian kita yang terbaik adalah pengalaman yang kita alami sendiri, yakni perjumpaan pribadi kita dengan Yesus Kristus. Berlatihlah menyaksikan kisah iman Anda kepada sahabat dekat dan orang-orang yang Anda kasihi, agar kemudian Anda dapat menceritakannya dengan jelas kepada orang lain. (RKK/RBCIndonesia.org)
Perjumpaan pribadi Anda dengan Yesus adalah alat Tuhan untuk memenangkan orang lain. Ceritakanlah kepada setiap orang yang Anda temui.

Jumat, 23 September 2011

Sepudar-Pudarnya Sebuah Sumbu

Yesaya 42 : 3

"Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum"



Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 66; Markus 16; Hosea 13-14



Kehidupan manusia naik dan turun. Saat naik, manusia merasa segalanya indah dan kehidupan sempurna adanya, namun seringkali kita berada di bawah. Putus asa dengan jawaban yang belum diterima, masih menunggu janji yang belum digenapi, mimpi maupun cita-cita yang belum tercapai, kehidupan yang dari hari ke hari begitu-begitu saja.

Jika Anda mengalami hal yang seperti ini, Anda perlu tahu hari ini juga bahwa waktunya sudah dekat. Apa yang Anda impikan selama ini, pemulihan keluarga Anda yang menurut Anda masih berantakan, keuangan yang masih terombang-ambing, kesehatan yang tidak menentu. Jangan menyerah. Jangan padamkan sumbu itu meskipun sudah pudar warnanya.

Jangan menyerah hanya karena hal itu memakan waktu yang begitu lama menurut Anda. Jangan menyerah hanya karena Anda tidak melihat ada suatu perubahan yang terjadi. Jangan menyerah hanya karena Anda pernah mencoba tapi gagal. Jangan menyerah karena Tuhan tidak pernah menyerah terhadap Anda.

Sumbu Anda mungkin pudar saat ini, tapi nyalakan kembali api kehidupan di dalam Anda agar Anda berkobar, memancar keluar dari diri Anda. Mungkin butuh waktu yang lama, tapi Tuhan adalah Allah yang setia. Tidak peduli apakah hal itu nampaknya mustahil terjadi, namun teruslah menyala. Jika Anda setiap setia dalam iman Anda, waktunya pasti akan datang. Dan Anda akan melihat ke belakang dan berkata, “Memang, waktunya Tuhan yang terbaik. Aku bisa seperti ini, hanya karena Tuhan.”

Sumbu yang pudar, tidak akan pernah dipadamkan Tuhan apalagi dipandang hina. Pandanglah Dia dan nyalakan lagi apimu

Kamis, 08 September 2011

Manusia Seperti Rumput

Yesaya 40:6-7
Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila Tuhan menghembusnya dengan nafas-Nya
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 57; Markus 7; Yesaya 65-66
Dalam sebuah perjalanan ke rumah salah seorang teman, saya melewati sebuah salon kecantikan yang cukup bagus tempatnya. Yang menjadi perhatian mata saya ketika itu adalah spanduk yang terpampang di depan gedung salon itu, “Ada keriting bulu mata, sambung rambut, tato alis, setrika muka,” begitulah kira-kita kata-kata yang tertulis disana.
Melihat itu, otak saya mulai berputar dan muncullah pertanyaan ini: “Mengapa semakin banyak penampilan tidak alami pada masa ini? Bukankah biaya untuk melakukan semua itu sangatlah mahal?” Berhari-hari saya memikirkan jawaban atas pertanyaan saya sendiri tersebut.
Manusia zaman sekarang – baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang sibuk memerhatikan penampilan dengan mengikuti berbagai program pembentukan tubuh, kecantikan wajah dan rambut, serta berbagai “penampilan penunjang” lainnya. Untuk  sebuah penampilan yang oke, orang rela berkorban waktu, tenaga dan materi.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa hidup kita seperti rumput dan bunga di padang, semaraknya akan segera berlalu (sementara). Orang Jawa menggambarkan perjalanan hidup di dunia seperti orang yang mampir ngombe (mampir minum). Namun, bukan berarti hidup yang fana ini dapat kita pakai seenaknya untuk memuaskan segala keinginan, justru karena hidup itu sementara, kita mesti memaknainya; menjalin relasi yang semakin akrab dengan DIA yang kekal.
Merawat tubuh dan memperindah penampilan tentu tidak salah. Namun, jika penampilan ragawi yang sefana rumput saja kita memerhatikannya begitu rupa, bukan hidup rohani kita semestinya diperhatikan lebih dari itu? Marilah kita belajar untuk lebih menikmati keakraban kita dengan-Nya, yang membuat hidup ini menjadi lebih berarti. (Renungan Harian Setahun; Penerbit Yayasan Gloria)
Meskipun sebentar, hidup adalah karunia Allah yang berharga. Isilah hari-hari Anda di bumi dengan menjalin keintiman dengan DIA dan menaati firman-Nya.

Jumat, 02 September 2011

Re-Boot

Kolose 1:14
"di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa."


Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 56; Markus 6; Yesaya 65-66

 Setiap orang yang menggunakan komputer pasti pernah mengalami beratnya kerja komputer akibat memori yang kecil berikut dengan banyaknya aplikasi yang dibuka untuk bekerja. Beberapa aplikasi yang dipakai seperti deep freeze dapat menyimpan settingan awal ketika diinstal. Artinya, komputer yang sudah terlalu berat dapat dire-boot ulang, maka komputer akan kembali kepada situasi awal ketika pertama kali diinstal. Ketika komputer terjangkit virus pun komputer dapat dire-boot ulang maka virusnya pun seperti tidak pernah menjangkiti komputer sama sekali.  
Ada banyak orang yang sulit melanjutkan hidup mereka karena dosa di masa lalu yang masih membelenggu mereka. Terus tertuduh, merasa dihantui masa lalu, terus hidup dalam siksaan perasaan dan merasa tidak akan pernah bisa lepas dari rasa bersalah. Ini salah satu dampak berat yang bisa mengganggu hidup kita dari sebuah dosa besar yang pernah kita lakukan.  
Maka ketika ini terjadi, kita pun akan berpikir, seandainya kita bisa melupakannya. Seandainya semua itu tidak pernah terjadi, tidak pernah kita lakukan. Seandainya kita bisa memulai lagi dari awal. Seandainya, hidup bisa semudah komputer yang tinggal di rebootulang. Benarkah kita tidak bisa memulai lagi sebuah hidup baru dari awal ketika kita pernah membuat kesalahan besar dalam hidup kita?
Dengarlah, kita bisa! Tuhan memberikan kesempatan untuk itu dan telah Dia nyatakan berulang kali dalam sepanjang Alkitab. Meski sering ada konsekuensi di dunia yang masih harus kita tanggung akibat perbuatan salah kita di masa lalu, tetapi ketika kita mengakui dosa kita dan bertobat secara sungguh-sungguh, saat itu pula pengampunan turun atas diri kita. Ini penting untuk kita ingat agar kita tidak terus menjadi tertuduh seumur hidup kita.  Iblis akan dengan senang hati memanfaatkan perasaan kita dan akan siap untuk terus menuduh kita hingga kita tidak akan pernah lagi bisa bertumbuh.
Tuhan memberikan fasilitas "reboot" kepada kita, termasuk menyediakan waktu dan kesempatan lebih dari cukup bagi kita untuk bertobat dan meninggalkan semua dosa-dosa di masa lalu. Tuhan bahkan rela turun ke muka bumi ini untuk menebus dosa-dosa kita. Dan dalam Yesus kita mengalami penebusan, pengampunan atas dosa-dosa yang pernah kita buat sebelumnya.
Apakah anda masih memiliki ganjalan akan sebuah kesalahan di masa lalu sehingga sulit untuk bangkit kembali? Apakah ada diantara teman-teman yang masih dihantui perbuatan dosa di waktu lampau yang masih menghantui anda saat ini? Apakah anda masih merasa seperti tertuduh meski sudah berulangkali mengakui dosa dan bertobat? Mulai hari ini bangkitlah kembali, alami hari depan yang cerah tanpa rasa takut lagi, yakinlah bahwa Tuhan sudah mengampuni anda.
Ketika tuduhan kembali menyerang anda, katakanlah bahwa darah Yesus sudah mencuci bersih semua bangkai dosa yang pernah singgah dalam hidup anda. You are forgiven, the new dawn has come. Let's have a new fresh life! 
Pengampunan Tuhan adalah pintu untuk memulai hidup yang baru

Senin, 29 Agustus 2011

Semurni Emas

1 Petrus 1:7
"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya."

 Bacaan Alkitab Setahun :  Mazmur 49; Titus 3; Yesaya 51-52

Salah satu bentuk investasi yang sering dianggap aman bahkan jauh lebih aman ketimbang menyimpan dalam mata uang tertentu oleh banyak orang adalah dengan menabung dalam bentuk emas murni. Ada sebuah proses pemurnian emas yang dilakukan lewat proses pembakaran. Metodenya adalah dengan memberi panas pada emas hingga mencair. Disaat emas sudah cair, berbagai kotoran yang melekat padanya seperti debu, karat dan unsur-unsur logam lain akan naik ke permukaan, sehingga semua kotoran ini bisa dipilah dan dibuang.  
 Demikianlah proses ini dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, bebas dari segala kotoran dan campuran logam lainnya. Dari proses pembakaran itu akan jelas terlihat mana emas yang murni, mana yang masih dipenuhi oleh kotoran-kotoran yang mengurangi kadar kemurnian emas itu.
Demikian pula iman kita. Agar bisa murni, iman harus melalui proses pemurnian pula sama seperti emas. Ada banyak orang yang ingin memiliki iman murni tetapi tidak mau melalui prosesnya. Proses pemurnian bukanlah sesuatu yang nyaman untuk dihadapi. Emas pun demikian bukan? Emas harus melalui proses pembakaran dengan suhu yang sangat tinggi untuk dapat dimurnikan.
Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam pencobaan. Bukan untuk menyiksa kita, namun untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya emas diproses hingga menjadi murni, iman kita pun terkadang harus melalui proses pemurnian lewat pencobaan-pencobaan yang mungkin rasanya sangat menyakitkan seperti dibakar.
Apa yang kita alami hari-hari ini pun sama sekali tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi atau paksaan yang kita hadapi, belum lagi berbagai bentuk godaan duniawi yang setiap saat bisa meluluh lantakkan iman kita. Anggaplah itu semua sebagai ujian yang bisa menjadi alat ukur kemurnian iman kita.
Bagaimana kita menyikapi permasalahan akan menjadi ukuran seteguh apa iman kita percaya pada Tuhan. Pencobaan yang terkadang membawa kita ke dalam penderitaan akan membangkitkan pengharapan dan ketekunan kita serta melatih iman kita agar lebih kuat dan tentunya lebih murni. Proses "pembakaran" iman kita akan melepaskan segala kotoran yang melekat pada iman kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni, sama seperti emas murni.
Lihatlah, bukankah semua itu bertujuan untuk kebaikan kita? Kita dipersiapkan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi kita semua. Itulah sebabnya kita harus bersyukur ketika kita melewati pencobaan. Jangan menyerah dan terburu-buru mencari alternatif yang menyesatkan ketika sedang menghadapi proses pemurnian, karena di ujung proses itu ada upah besar yang sedang menanti kita.
Lewati proses pembakaran dengan bersyukur karena pada akhirnya anda akan terus mendapati iman yang semakin murni

Rabu, 17 Agustus 2011

Tragedi Titanic


2 Korintus 2:4

Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 47; Titus 1; Yesaya 45-46

Kisah Titanic telah memikat hati banyak orang bahkan sebelum kisah tersebut difilmkan pada tahun 1997. Jelas, banyak kesalahan terjadi yang membuat kapal tersebut tenggelam. Sekalipun kapal tersebut dinyatakan sebagai kapal yang tidak mungkin tenggelam, kapal itu tenggelam. Bahkan tenggelamnya relatif mudah.

Kita tahu bahwa ada 1500 orang yang tewas dan terkubur di bawah es. Kita tahu bahwa saat itu tidak ada cukup ruang di sekoci penyelamat. Namun tahukah Anda bahwa banyak sekoci itu yang terisi setengah, beberapa hanya berisi empat atau lima orang dari kapasitas yang seharusnya bisa menampung 60 orang.

Jadi salah satu tragedy terbesar dari Titanic adalah fakta bahwa masih banyak tempat di sekoci penyelamat namun tidak ada satupun yang mau kembali untuk menyelematkan orang lain. Mereka mengayuh sekoci menjauhi kapal yang mulai tenggelam karena mereka takut terhisap. Mereka yang selamat mengatakan bahwa mereka bisa mendengar jeritan orang-orang ketika akhirnya Titanic menghilang ke dasar laut.

Disana, dimana masih ada tempat di sekoci penyelamat, mereka bisa mengayuh perahu tersebut kembali dan menolong orang-orang. Tetapi mereka tidak melakukan sesuatu. Mereka menunggu sekitar satu jam, baru mereka kembali. Namun saat itu, mereka hanya dapat menyelamatkan sedikit orang saja. Mereka menunggu hingga terlalu terlambat untuk menolong.

Saat ini, ada banyak orang yang belum selamat dilingkungan sekitar kita. Banyak mereka binasa padahal masih banyak tempat di sekoci kehidupan kita. Namun apakah kita cukup peduli untuk memberitakan kabar keselamatan di dalam Yesus Kristus, atau kita hanya nyaman dengan keselamatan kita sendiri? Mari kita ulurkan tangan kepada sekeliling kita dan katakan, “Marilah masuk ke dalam perahu kehidupan kekal yang ada di dalam Yesus Kristus.” (Adaptasi dari: Greg Laurie/Crosswalk)

Banyak tragedy dalam kehidupan terjadi seringkali karena ketidak pedulian kepada sesama.

Minggu, 14 Agustus 2011

Ngeyel

Amsal 1:7
Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 44; 2 Timotius 2; Yesaya 39-40
Banyak orang yang menyebut zaman ini sebagai zaman yang edan. Mereka melakukan apa yang menurutnya benar dan tidak mau mendengarkan nasihat dari orang-orang yang lebih tua dari mereka. Telinga mereka dipakai hanya dipakai untuk menerima pujian dan tidak boleh ada yang lain.
Dalam budaya Jawa, ada satu kata yang sering dipakai oleh orang dari suku Jawa untuk menyebut orang yang keras kepala atau tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan orang lain kepadanya yakni ngeyel. Kata ini sering terucapkan pada saat seseorang ingin menegur atau memberitahukan hal yang benar atau pun baik tetapi orang yang diberitahukan menolak menerimanya.
Orang yang mengaku percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi juga suka bersikap seperti ini dalam kehidupannya sehari-hari. Saat di gereja, ia acuhkan teguran-teguran yang diberikan oleh pembimbing rohaninya atau gembala gerejanya pada saat ia berbuat sebuah kekeliruan. Ketika di kantor, ia menolak masukan dari atasan di kantornya karena menganggap ide pimpinannya kuno, sedangkan ide yang ia punya lebih brilian.
Allah secara tegas menentang orang-orang yang keras kepala/ngeyel. DIA tidak suka dengan mereka yang merasa “lebih tahu”, “lebih hebat”, “lebih up to date” dari pada diri-Nya atau pun orang-orang yang ditempatkan Tuhan berotoritas di dalam hidup mereka. Bukti bahwa DIA tidak berkenan dengan hal tersebut, bisa Anda baca di dalam Alkitab pada bagian perjanjian lama, salah satunya adalah di kitab yang menceritakan perjalanan bangsa Israel kuno menuju tanah perjanjian.
Anda mungkin saat ini memiliki kepintaran, keahlian, dan ketrampilan yang baik, namun bukan berarti hal ini melegitimasi Anda menjadi orang yang keras kepala. Tak ada gunanya bersikap ngeyel di hadapan Allah dan orang-orang yang berotoritas  di atas hidup Anda karena justru kerugianlah yang akan Anda terima. Daripada menyesal di kemudian hari, mulailah buka telinga dan hati Anda terhadap apa yang DIA dan mereka katakan kepada Anda.
Orang yang dengar-dengaran akan Allah, hidupnya pasti berhasil dan bahagia.

Rabu, 10 Agustus 2011

Berjalan Dalam Kemenangan

1 Samuel 18:8-9
Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 36; 2 Tesalonika 3; Yesaya 23-24
Sewaktu Daud mengalahkan Goliat dan dielu-elukan oleh rakyat Israel, Saul menjadi paranoid. “Apa lagi yang tidak didapatnya sekarang kecuali tahta kerajaan?”
Dari ucapannya pada diri sendiri terlihat bahwa dia kehilangan kendali. Dia takut dengan bayangannya sendiri.
Hanya hitungan jam, ia memandang Daud dengan penuh kecurigaan. Ketika pikirannya dipenuhi dengan kecemburuan, kecurigaan akan mengambil alih.. dan pada titik itu, hal-hal berbahaya terjadi.
Daud tidak melakukan apapun yang pantas membuatnya menerima perlakuan seperti itu! Dia melayani Tuhan, membunuh raksasa, menundukkan dirinya pada atasannya, dan berlaku sopan. Bahkan, dalam 1 Samuel 18:15 dituliskan: “Ketika dilihat Saul, bahwa Daud sangat berhasil, makin takutlah ia kepadanya;”
Mengapa? Karena Saul tahu bahwa Tuhan berada di pihak Daud, dan dia menyadari bahwa dirinya tidak lagi memiliki kuasa yang seperti itu. Perbedaan itu tidak bisa ia terima lagi.
Alkitab sangat praktis bukan? Cemburu dan iri hati adalah dosa yang mematikan. Kecemburuan Saul telah membuatnya terbelenggu. Alih-alih memimpin Israel kepada suatu tujuan yang besar dan lebih baik, ia fokus pada satu tujuan yang menyedihkan : membuat hidup Daud sengsara.
Tetap positif dan bijaksana adalah reaksi terbaik menghadapi musuh seperti Raja Saul ini. Ketika Anda melihat musuh datang, jangan menyingkan lengan baju Anda baik secara fisik maupun mental. Ingat bagaimana Daud menghadapi Saul. Daud terus menerus beruntung – dia hanya menjaga dirinya untuk terus bertindak bijak. Lalu ketika ketegangan meningkat, Daud memilih pergi. Dia menolak untuk melawan atau membalas.
Jadi jika hari ini Anda mengalami gesekan dengan seseorang yang cemburu kepada Anda, baik itu teman kos, bos, saudara, tetangga atau bahkan pasangan Anda, ingatlah terladan Daud. (Charles Swindol/Crosswalk.com)
Berjalan dalam kemenangan adalah tentang melakukan apa yang menyenangkan Tuhan tanpa lelah, baik dalam kondisi baik ataupun buruk.

Senin, 01 Agustus 2011

Diperhitungkan oleh Tuhan

Mazmur 144 : 3

"Ya Tuhan, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya"



Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 31; 1 Tesalonika 3; Yesaya 15-16



Tahun-tahun hidup manusia sepertinya lewat begitu saja dengan cepat. Sehingga seringkali timbul pertanyaan dalam hidup kita, mengapa kita tiba-tiba berumur sekian. Sama seperti angin, hidup manusia cepat tertiup dan digantikan dengan kehidupan manusia lainnya.

Jika dibandingkan dengan kekekalan yang akan Tuhan berikan buat kita, hidup kita di dunia ini laksana debu yang diterbangkan sekali langsung hilang. Seperti ombak yang dengan cepat menghapus tulisan di pasir, sama seperti napas yang muncul lalu menghilang dan diganti lagi dengan napas lainnya.

Sama seperti pemazmur, hendaklah kita menanyakan mengapa Tuhan memperhatikan kita meskipun kita ini begitu cepat berlalu di bumi yang kita tinggali ini. Hal itu akan membuat kita mengerti bahwa Tuhan menghargai setiap kita, baik kita yang paling hina sekalipun, Tuhan mengenal dan memperhatikan.

Untuk itu, janganlah kita memikirkan perkara yang di dunia ini, yang sebentar habis lalu lenyap tapi pikirkanlah perkara-perkara di atas. Sebab Tuhan sudah memberi contoh kepada kita semua, Dia memperhitungkan umat manusia sebagai bagian yang berharga. Kita harus memperhitungkan-Nya lebih berharga lagi dengan menyenangkan hati-Nya.




Tuhan, mengapa Engkau memperhatikanku? Karena Aku ingin kau perhatikan-Ku lebih lagi, anak-Ku

Jumat, 22 Juli 2011

Ukuran Berkat

Sumber berkat telah Allah sediakan untuk kita, jika kita juga ikut menyalurkan berkat itu untuk kemuliaan nama Tuhan
“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Lukas 6:38

Senin, 04 Juli 2011

Hanya Sementara

Wahyu 21:4
Dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 4; Matius 4; 1 Raja-Raja 21-22
“Bayangkan saja kelegaan yang kamu rasakan nanti setelah sakitnya berlalu,” kata Ayah. Waktu masih kecil, saya sering menerima nasihat ini dari Ayah, yang beliau berikan biasanya setelah saya mendapat luka kecil atau goresan yang membuat saya histeris. Pada saat itu, nasihat ini tidaklah begitu membantu. Yang ada di pikiran saya hanyalah rasa sakit yang saya alami, dan teriakan keras disertai air mata kelihatannya merupakan tanggapan yang paling wajar.
Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, nasihat Ayah sungguh telah membantu saya dalam melewati situasi-situasi yang menyakitkan. Baik itu sakit karena patah hati atau derita penyakit yang berkepanjangan, saya akan mengingatkan diri sendiri: Ini hanya sementara.
Keyakinan yang kita miliki sebagai orang Kristen adalah bahwa Allah memiliki rencana yang baik bagi kita. Penderitaan bukanlah bagian dari rancangan awal penciptaan, tetapi dipakai sebagai pengingat sementara akan apa yang terjadi di dunia ketika tatanan Allah dilanggar. Penderitaan juga mendorong kita untuk menyebarkan berita tentang rencana Allah untuk menebus dunia dari penderitaan yang diakibatkan oleh dosa.
Meskipun kita tidak dapat menghindar dari penderitaan dan kekecewaan (Yohanes 6:33), kita tahu bahwa semuanya itu hanyalah sementara. Ada sebagian penderitaan yang akan berlalu dalam hidup ini, tetapi semuanya akan berlalu ketika Allah akhirnya dan secara pasti menjadikan langit yang baru dan bumi yang baru (Wahyu 21:1). Masa kini hanya sementara. 
Upah kita di surga lebih dari cukup untuk membayar semua kehilangan kita di bumi.

Rabu, 29 Juni 2011

Kisah Sup Batu

Mazmur 133:1
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 30; Kolose 3; 2 Tawarikh 16-17
Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di se buah kota. Warga kota itu tak pernah ber gem bira, sebab mereka hidup dengan sa ngat mementingkan diri sendiri. Mereka me nger­jakan segala sesuatu sendiri dan un tuk dirinya sendiri. Selain itu, mereka su ka mencurigai semua orang. Termasuk kepa da tiga pengembara kela paran yang duduk di tengah alun-alun kota mereka.
Tiga pengembara itu mem buat api la lu merebus sebuah batu. “Apa yang kau buat?” tanya seorang anak yang lewat. “Kami membuat sup batu yang sangat enak,” kata si pengembara, “tetapi akan ja uh lebih enak jika ditambah se siung kecil bawang,” lanjutnya. Anak itu pun berlari dan mengambilkan bawang. Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka mengintip dan menengok satu per satu. “Sup ini akan jauh lebih enak jika ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh lebih baik.” Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup yang enak (tentu setelah ba tunya dibuang) dan penduduk kota ikut menik matinya. Untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan.
Pemazmur menyebutkan betapa baiknya apabila kita hidup ber sa ma dengan rukun. Tidak cuma berarti tinggal bersama-sama, teta pi saling menerima dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tan pa prasangka, yang menghalangi interaksi dengan sesama. Hi dup harmonis ini bukan saja menda tang kan kebahagiaan bagi kita,  melainkan juga bagi Allah. Seperti kata pemazmur, “… sebab ke  sa na lah Tuhan memerintahkan berkat ...” (G. Sicillia Leiwakabessy/RenunganHarian.net)
Tidak ada sesuatu yang baik yang bisa Anda dapatkan dari kecurigaan. Kasihilah sesama dengan tulus dan tunjukkanlah kemurahan hati Anda.

Minggu, 26 Juni 2011

Akses Langsung Kepada Bapa

Yohanes 14:11a
Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku;
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 27; Filipi 4; 2 Tawarikh 10-11
Suatu hari, anak Abraham Lincoln sedang berjalan-jalan di sebuah taman di dekat Gedung Putih, ia melihat seorang prajurit muda duduk di bangku sambil menangis. Pria itu sangat tertekan, dan Lincoln muda berhenti untuk bertanya apa yang menjadi masalahnya.
Sambil menangis, prajurit itu menjelaskan bahwa saudaranya telah di penjara untuk sesuatu yang dia tidak lakukan. Dia telah diberitahu bahwa satu-satunya orang yang bisa membantunya adalah Presiden Amerika Serikat. Masalahnya, tentu saja, adalah bahwa ia tidak bisa menyampaikan pesan kepada presiden karena tidak ada orang di Gedung Putih akan mendengarkannya.
Anak Presiden Lincoln berpikir sejenak dan kemudian bertanya, "Tuan, maukah Anda pergi dengan saya?" Meskipun ia tidak tahu identitas Lincoln muda, ia setuju. Kedua berjalan ke seberang jalan dan melalui gerbang Gedung Putih. Mereka melewati para penjaga dan sekretaris pribadi Lincoln. Bahkan, mereka tidak berhenti berjalan sampai mereka melewati ambang pintu kantor Lincoln dimana putranya akhirnya angkat bicara dan berkata, "Halo, Ayah. Tentara ini perlu berbicara dengan Anda.”
Presiden mengalihkan pandangan dari apa yang sedang dia kerjakan dan tersenyum. Kemudian ia mendengarkan prajurit itu menjelaskan situasinya. Cerita ini membuktikan bahwa ketika Anda memiliki penghubung yang benar, Anda dapat pergi lebih jauh,dan jauh lebih cepat.
Hal yang sama berlaku dengan hubungan kita dan Yesus Kristus. Dia adalah Anak Allah, dan Dia memiliki akses langsung kepada Bapa sorgawi-Nya. Kita tidak harus menghabiskan waktu berdoa melalui perantaraan orang lain, berharap bahwa kita menemukan orang yang tepat. Ketika Anda berdoa kepada Yesus, Anda memiliki semua akses yang Anda butuhkan. Tidak ada yang bisa mencegah Anda datang ke hadirat-Nya, dan tidak ada yang dapat menghentikan Dia dari menjawab doa-doa Anda.
Anda dapat membawa rasa sakit hati, kesedihan, dan kekecewaan Anda kepada Allah dalam doa. Apapun yang menjadi kekhawatiran Anda, juga perhatian-Nya juga. Dia adalah Bapa Sorgawi Anda, dan Dia memiliki kontrol penuh atas seluruh alam semesta.(Dr. Tony Evans/Crosswalk.com)
Anda memiliki akses langsung kepada Bapa Sorgawi melalui Yesus Kristus, jangan sampai Anda menyia-nyiakannya.

Jumat, 24 Juni 2011

Menantikan Dengan Sabar

Mazmur 130:5
Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 25; Filipi 2; 1 Raja-Raja 11-12
Anak-anak menginginkan segala sesuatu terjadi saat ini juga: “Aku mau pencuci mulutnya sekarang!” “Kita sudah sampai belum?” “Bolehkah kami membuka kadonya sekarang?” Sebaliknya, seiring kita beranjak dewasa, kita belajar menanti. Para mahasiswa kedokteran menanti kelulusan dengan melalui pelatihan. Orangtua menanti dengan penuh harap kedatangan kembali anaknya yang terhilang. Kita menanti untuk sesuatu hal yang layak dinanti, dan dalam proses itu, kita belajar memiliki kesabaran.
Allah, yang tidak dibatasi waktu, meminta kita supaya mempunyai iman yang dewasa, yang mungkin melibatkan penundaan-penundaan yang terlihat seperti suatu ujian. Kesabaran adalah salah satu tanda dari kedewasaan itu, suatu kualitas yang hanya dapat dimiliki seiring berjalannya waktu.
Banyak doa di Alkitab yang muncul dalam masa penantian. Yakub menanti selama 7 tahun untuk seorang istri. Lalu, ia bekerja 7 tahun lagi setelah diperdaya mertuanya (Kejadian 29:15-20). Bangsa Israel menanti selama 4 abad untuk pembebasan mereka; Musa menanti selama 40 tahun untuk menerima panggilan menjadi pemimpin Israel dan menanti 40 tahun lagi menuju ke Tanah Perjanjian yang tidak dapat dimasukinya.
“Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi” tulis sang pemazmur (Mazmur 130:6). Ini mengingatkan kita tentang seorang penjaga malam yang menghitung berapa lama lagi tugasnya berakhir.
Saya berdoa untuk sabar bertahan dalam masa-masa pencobaan, supaya tetap menanti, tetap berharap, tetap percaya. Saya memohon kesabaran untuk menjadi sabar. (PDY-RBCIndonesia.org)
Kesabaran Anda untuk menanti waktu Tuhan adalah tanda kedewasaan iman Anda.

Selasa, 21 Juni 2011

Duta Besar Di Bawah Otoritas

II Korintus 5:20
Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 22; Efesus 5; Pengkhotbah 10-12
Apakah duta besar itu? Ia adalah seorang perwakilan dan pelayan dari pemerintahannya di luar negeri. Ia tidak bebas menentukan kebijakan-kebijakannya sendiri atau menyampaikan pesannya sendiri, tetapi harus membawa keinginan dari pemerintahan yang ia wakili. Dengan kata lain, ia adalah seseorang yang berada di bawah otoritas.
Dengan cara yang sama kita dipanggil untuk hidup di bawah otoritas Yesus Kristus dan otoritas Alkitab. Kita adalah hamba. Kita harus hidup di bawah otoritas firman Allah. Kita dipanggil bukan untuk melakukan kehendak kita, melainkan kehendak Kristus.
Dunia saat ini sedang mencari pria-pria dan wanita-wanita kudus yang hidup di bawah otoritas firman Allah. Orang yang belum percaya tidak akan mendengarkan apa yang kita katakan sampai kita menunjukkannya dengan cara kita hidup. Apakah Anda sudah menjadi seorang utusan Allah yang setia bagi orang-orang di sekitar Anda? (Billy Graham /hopeforEacyDay)
Sebagai duta-duta Allah di bumi, marilah kita membuktikan status kita dengan hidup sesuai dan seturut firman-Nya.

Rabu, 15 Juni 2011

Proses Menggemburkan Tanah

1 Petrus 6-7
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
Bacaan Alkitab Setahun : Amsal 16; Galatia 5; 2 Tawarikh 1-3
Beberapa bulan terakhir, ibu saya memiliki kegemaran baru, yaitu memelihara tanaman bunga. Namun karena tidak terlalu mengerti mengenai tanaman, tanaman bunga ibu saya tidak bertumbuh dengan baik. Tampak kurus-kurus, daun-daunnya menguning dan tidak berbunga.
Beruntung seorang tetangga yang kegemarannya bercocok tanam melihat kondisi tanaman ibu saya dengan senang hati menolong. Dengan sigap dia mengajarkan bagaimana menanam tanaman dengan baik dan cara pemeliharaannya.
Dia mengeluarkan semua tanah yang ada dan mencabut tanaman itu. Ia kemudian mengambil tanah, digemburkannya, lalu dicampurnya dengan pupuk kandang. Setelah itu, tanaman itu ditanam kembali dengan tanah tersebut. Dia pun mengajarkan mana tanaman yang butuh air banyak, dan mana yang hanya perlu sedikit air. Akhirnya, semua itu membuahkan hasil setelah beberapa minggu. Kini jika Anda berkunjung ke rumah saya, Anda bisa temukan berbagai tanaman bunga menghias halaman rumah saya.
Saya rasa Tuhan melakukan hal yang sama dengan hidup kita, jika kita tidak menghasilkan buah dalam hidup ini. Ia akan membongkar hidup kita, menggemburkan tanah hati kita, mencabut semua batu, menanam hidup kita dalam pelataran-Nya dan menyirami kita dengan kasih-Nya. Tidak hanya berhenti disitu, Dia tiap-tiap hari akan menyiangi jika ada rumput-rumput yang akan merusak kehidupan kita. Percayalah, jika kita mengijinkan proses Tuhan ini dan menerimanya dengan lemah lembut dan rendah hati, cepat atau lambat nama Tuhan akan dimuliakan dengan buah-buah kehidupan kita. (Jawaban.com/Puji Astuti)
Proses menyakitkan yang Anda alami hari ini, adalah sebuah cara Tuhan untuk membuat hidup Anda menghasilkan buah yang lebat dan memuliakan Dia.

Minggu, 12 Juni 2011

Taat Yang Setengah-setengah

Lukas 3:11
Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 13; Galatia 2; 1 Raja-Raja 5-6
Disuatu malam saat musim dingin, Joe, salah seorang teman anak saya David datang untuk mengajaknya ke konser. Saya menyambut Joe sambil bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Sambil meniup tangannya, dia menjawab, “Malam ini sangat dingin; tanganku membeku!”
“Tunggu sebentar,”jawab saya. Saya masuk ke kamar tidur, dan keluar sambil membawa sepasang sarung tangan lalu memakaikannya ke tangan Joe. Dengan tersenyum, saya berkata, “Alkitab mengatakan, “Jika kamu punya sarung tangan lebih, pinjamkan kepada mereka yang tidak punya.” Simpan itu sampai cuaca hangat.”
Setelah mereka berdua pergi, saya menjadi terusik dengan apa yang saya katakan. Saya membuka kitab Lukas. Yohanes Pembabtis tidak berkata “pinjamkan,” di aberkata “berikan.” Saya baru setengah perjalanan dalam mentaati firman Tuhan. Terutama dalam kondisi dimana pengangguran sangat tinggi dan banyak orang kehilangan rumahnya, Tuhan memanggil kita untuk bersikap murah hati secara radikal. Saya bahagia karena banyak gereja melakukannya termasuk gereja saya, mereka memiliki pelayanan memberikan makanan gratis, pakaian gratis atau murah, juga berusaha membantu perumahan bagi mereka yang tunawisma.
Diwaktu kemudian ketika saya berjumpa dengan Joe, saya berkata padanya, “Sarung tangan itu boleh kamu simpan. Saya salah mengutip ayat Alkitab; ternyata diajarkan untuk memberi, bukan hanya meminjamkan.” Saya melakukannya karena saya percaya bahwa hidup sesuai dengan firman Tuhan adalah cara hidup yang benar. 
Ketaatan yang setengah-setengah bukanlah ketaatan. Hidup dalam ketaatan membutuhkan totalitas. Bersediakan Anda?

(^_^)